Menu



OtoDriver logoMember of :Logo PT. Bintang langit Multimedia

Copyright © 2026. Otodriver.com. All rights reserved.
BerandaBerita

Mulai Semester II 2026, Pengguna Mobil Akan Menggunakan BBM Campur Etanol

BBM bioetanol E5 mulai diterapkan pada 2026. Apakah aman untuk tangki dan mesin mobil? Simak penjelasan ahli ITB mengenai risiko karat dan dampaknya bagi kendaraan.
Berita
Jumat, 5 Juni 2026 09:00 WIB
Penulis : Gemilang Isromi Nuar
Ilustrasi BBM campur Etanol. (Foto : Isimewa)


Ikuti kami juga di whatsApp Channel Klik disini

OTODRIVER - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mewajibkan pencampuran bioetanol sebesar 5 persen ke dalam bensin atau dikenal sebagai E5 mulai semester II 2026. 

Kebijakan tersebut berlaku untuk seluruh badan usaha penyedia bahan bakar minyak (BBM) non-public service obligation (PSO) atau BBM non-subsidi yang dipasarkan di Pulau Jawa.

Penerapan BBM bioetanol E5 menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mempercepat penggunaan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. 

Namun, rencana ini juga menimbulkan pertanyaan di kalangan pemilik mobil, terutama terkait keamanan tangki bahan bakar dan komponen mesin dalam jangka panjang.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan amanat dari regulasi yang telah ditetapkan pemerintah.

"Jadi untuk semester II tahun 2026 ini, seluruh badan usaha BBM wajib melakukan pencampuran. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025," ujar Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

BACA JUGA

Apakah BBM Bioetanol E5 Aman untuk Mobil?

Muncul kekhawatiran bahwa kandungan etanol dalam BBM dapat memicu karat pada tangki bahan bakar mobil atau bahkan merusak komponen sistem pembakaran.

Menanggapi hal tersebut, Dr. Ing. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Staf Pengajar Program Studi Teknik Mesin Kelompok Keahlian Ilmu Rekayasa Thermal Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa etanol memang dapat bereaksi dengan lapisan antikarat tertentu yang mengandung timbal.

Jika lapisan pelindung tersebut mengalami kerusakan, maka bagian logam pada tangki atau saluran bahan bakar dapat lebih mudah terpapar oksigen dan berpotensi mengalami korosi.

"Karena etanol itu akan bereaksi dengan pelapis antikarat yang ada di tangki kalau mengandung timbal. Karena dia akan mengoksidasi timbalnya baik menjadi rapuh atau ngelupas, sehingga akhirnya ada oksigen yang langsung bereaksi dengan bajanya dan menimbulkan karat," jelas Tri dalam RAMO Podcast.

Penyebab Karat pada Mobil Bukan Etanol Secara Langsung

Meski demikian, Tri menegaskan bahwa penyebab utama karat pada tangki bahan bakar mobil bukanlah etanol itu sendiri.

Menurutnya, etanol memiliki sifat higroskopis atau mudah menyerap air dari udara. Ketika kandungan air dalam bahan bakar meningkat, air tersebut dapat bereaksi dengan logam pada tangki maupun sistem bahan bakar sehingga memicu korosi.

"Sebetulnya yang menimbulkan karat bukan etanol, tapi karena sifat etanol yang higroskopis, menyerap air yang ada di udara. Nah, karena ada air di dalam tangkinya, maka itulah yang bereaksi," ujarnya.

Artinya, risiko korosi lebih banyak disebabkan oleh keberadaan air dalam sistem bahan bakar dibandingkan kandungan etanol dalam campuran bensin.

Mobil Modern Dinilai Aman Menggunakan BBM Campuran Etanol

Menurut pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, campuran etanol rendah seperti E3,5 atau bensin yang mengandung sekitar 3,5 persen etanol masih berada dalam kategori aman untuk kendaraan bermotor.

"Kandungan ini masih tergolong rendah, setara E3,5, dan berada di bawah batas aman internasional seperti E10 (10%) yang digunakan luas di banyak negara. Bahkan etanol dapat meningkatkan daya serta torsi mesin, selain menekan emisi karbon monoksida, hidrokarbon, hingga partikel kecil lainnya," ujar Yannes saat dihubungi Otodriver beberapa waktu lalu.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan bioetanol tidak akan menimbulkan masalah pada sistem bahan bakar maupun komponen mesin selama kadar campurannya sesuai standar yang ditetapkan.

"Selama kadar etanol tidak berlebihan dan proses pencampurannya dilakukan sesuai standar, tidak akan menimbulkan masalah pada sistem bahan bakar maupun performa mesin," paparnya.

Dengan berbagai hasil penelitian dan pengalaman penggunaan bioetanol di berbagai negara, pemilik mobil modern tidak perlu khawatir berlebihan terhadap penerapan BBM campuran etanol yang akan dimulai pada 2026. (GIN)


Tags Terkait :
Etanol Bbm Esdm
G

Gemilang Isromi Nuar

Penulis

Jurnalis lulusan IISIP Jakarta sejak 2013. Berpengalaman di tabloid, harian, dan media online hingga kini di Otorider. T...

Bagikan Ke :


Ikuti kami juga di whatsApp Channel Klik disini

Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari otodriver.com. Mari bergabung di Channel Telegram OtoDriver, caranya klik link https://t.me/otodriver, kemudian join. Anda Harus install aplikasi telegram terlebih dahulu.


Special Report: GIIAS 2026
Artikel Terkait


Berita
Toyota Ikut Berperan Dalam Pengembangan Bietanol Indonesia

Saat ini sudah beredar di sejumlah SPBU dengan nama Pertamax Green berspesifikasi E5.

2 minggu yang lalu


Berita
Etanol 10 Persen Jadi Standar Baru BBM 2027, Siap Menggunakan Bensin Campuran?

Etanol E10 akan menjadi campuran wajib bensin mulai 2027. Begini penjelasan ahli mengenai dampaknya terhadap mesin mobil.

2 minggu yang lalu


Berita
Solar B50 Sudah Masuk SPBU, Harga Rp6.800 Per Liter

Pembelian tetap pakai barcode karena masuk kategori bahan bakar bersubsidi.

3 minggu yang lalu


Berita
Ini Lokasi SPBU Pertamina di Jakarta Yang Menyediakan Pertamax Green 95

Semester kedua 2026 semua SPBU di Indonesia wajib menyediakan BBM berkandungan E5.

1 bulan yang lalu


Berita
SPBU Terapkan Bensin Campur Etanol Mulai Juli 2026, Aman Dipakai Jangka Panjang?

Mulai Juli 2026 seluruh SPBU di Jawa wajib menjual bensin campuran etanol 5 persen atau E5. Apakah aman untuk mobil dalam jangka panjang? Simak penjelasan ahli ITB.

1 bulan yang lalu


Bus
Indonesia Stop Impor Solar Bulan Juli 2026, Akan Diganti B50

Indonesia stop impor solar Juli 2026 diganti B50. Pemerintah akan menerapkan biodiesel 50 persen berbasis sawit mulai 1 Juli 2026 untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

1 bulan yang lalu


Berita
Mulai Semester II 2026, Pengguna Mobil Akan Menggunakan BBM Campur Etanol

BBM bioetanol E5 mulai diterapkan pada 2026. Apakah aman untuk tangki dan mesin mobil? Simak penjelasan ahli ITB mengenai risiko karat dan dampaknya bagi kendaraan.

1 bulan yang lalu


Berita
Katanya Pertalite Dicampur Etanol? Pertamina Pastikan Itu 'Hoax'

Tidak bisa begitu saja tercampur dengan materi air. Berikut penjelasannya.

9 bulan yang lalu


Terkini

Berita
The New Mazda CX-30 Rakitan Indonesia Dipastikan Punya Kualitas Global

Langkah besar akhirnya diambil Mazda di Indonesia. Untuk pertama kalinya, pabrikan asal Hiroshima tersebut menghadirkan mobil rakitan lokal melalui The New Mazda CX-30.

3 jam yang lalu


Berita
VKTR Luncurkan Transporter Lokon, Minibus Listrik Yang Mampu Boyong 18 Penumpang

VKTR hadirkan Transporter Lokon, transportasi kendaraan listrik komersial yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan mobilitas bisnis dengan kapasitas lebih besar.

5 jam yang lalu


Berita
Viral Mobilnya Terbakar di Tol, Ini Klarifikasi dari BYD Indonesia

Beberapa waktu lalu beredar video terbakarnya salah satu model BYD di tol. Ini tanggapan pihak BYD.

6 jam yang lalu


Bus
PO Bagong Borong 61 Unit Bus Hino Di GIIAS 2026

Dilakukan untuk penambahan armada serta peremajaan unit.

7 jam yang lalu


Van
Semua Unit Farizon Bisa Isi Ulang Listrik di Jaringan Arista

Sebagai bagian dari pelayanan lengkap bagi pemilik armada.

8 jam yang lalu