OTODRIVER - China telah didapuk sebagai pembuat EV terbesar di dunia. Kendaraan bikinan mereka pun menyebar cepat ke pasar global dengan dorongan permintaan pasar yang tinggi dan diikuti dengan bekingan kuat dari Beijing.
Namun pada 2026 semuanya akan berubah, di mana puluhan brand EV Tiongkok mendapatkan tekanan yang besar, seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan rampungnya berbagai subsidi juga intensif pajak di Negeri Panda tersebut.
Melansir South China Morning Post (SCMP), dilaporkan bahwa sekitar 50 produsen EV di Tiongkok yang merugi mungkin terpaksa mengurangi ukuran pabrik atau malah menutup usaha sepenuhnya pada tahun 2026.
Dihapuskannya subsidi tunai dan insentif pajak mobil domestik Tiongkok diperkirakan para analis bakal menyusutkan minat pembeli, sekalipun produsen menawarkan diskon besar.
Namun pemerintah China saat ini masih berpikir apakah subsidi tukar tambah sebesar 20 ribu yuan (US$2.845) akan diperpanjang atau tidak.
Tahun ini Pemerintah China telah mencabut subsidi pajak sebesar 10 persen dan sebagai gantinya diberlakukan insentif pajak sebesar 5 persen. Rencananya tarif normal tanpa subsidi pajak bakal efektif berlaku sepenuhnya pada 2028.
Kerugian produsen China ini juga semakin diperburuk dengan terjadinya perang diskon perang harga yang brutal selama tiga tahun terakhir. Kondisi ini semakin menipiskan margin keuntungan pabrikan lokal.
Gelombang besar ini berdampak pada semua pabrikan, namun yang paling parah adalah pabrikan kecil dan menengah. Investasi besar dalam penelitian dan pengembangan menjadi beban nyata selain perang harga yang terjadi.
Pabrikan besar seperti BYD ataupun Seres yang didukung oleh Huawei dan beberapa produsen menengah hingga atas lainnya yang masih mencatatkan keuntungan.
Perundangan dan kondisi pasar domestik Tiongkok di 2026 ini laksana ‘seleksi alam’. Penyusutan pabrikan EV terbanyak di dunia ini sudah terjadi lebih cepat. (SS)
