Mudik in Style 2019: Belasan Jam Dengan Almaz dari Jakarta Sampai Kampung Halaman

Mudik in Style 2019: Belasan Jam Dengan Almaz dari Jakarta Sampai Kampung Halaman

Yogyakarta merupakan destinasi tetap Lebaran kru OtoDriver Suryo Sujatmiko sekeluarga. Dan Lebaran 2019 ini Suryo yang kesehariannya merupakan Reporter spesialis teknik dan mobil bekas ini berkesempatan mencicip Wuling Almaz untuk menjalankan agenda tahunan Mudik in Style 2019 ini.

Seorang kawan seperantauan mengabarkan bahwa ia dan keluarga mudik tepat sehari sebelum Lebaran (04/06) melalui Tol Trans Jawa. Berbekal sebuah sedan rakitan awal 2.000 an, Sang kawan ini hanya butuh waktu 7 jam saja untuk sampai tujuan (terhitung dari rumahnya di Ciledug hingga tempat tujuan di wilayah Madukismo, Bantul. Ia mengambil exit Boyolali yang kemudian mengambil rute Klaten dan menuju Yogyakarta.

 

Kisah sukses 7 jam ini pun menjadi penyemangat tersendiri bagi Suryo yang merencanakan mudik, pada malam, hari pertama Lebaran. Suryo pun memacu Almaz dengan memilih jalur yang sama seperti kawannya di atas (5/6).

Tepat pukul 21.30, Almaz pun meluncur dari rumah mertua tercinta Suryo di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat dan diarahkan menuju rumah orang tua kru OtoDriver satu ini di daerah Babarsari, Sleman.

Memang ada info bahwa akan tersendat jalur tol Cikampek, dan menurut estimasi dari Google Map, Almaz putih tersebut harus tempuh dalam waktu 8 jam 48 menit,atau hampir dua jam lebih lama dari yang ditempuh sang kawan.

Dan jika dicocokkan dengan Google Map, exit Boyolali adalah pilihan dengan waktu tempuh tersingkat. Estimasi kami akan sampai di tujuan sekitar pukul 07.00 WIB.

Estimasi dari Google Map pun buyar. Kemacetan parah terjadi mulai dari simpang Cikunir dan terus berlanjut hingga Karawang Timur. Banyaknya ruas jalan yang menyempit disertai dengan kenaikan volume kendaraan diduga jadi penyebabnya.

Sistem contraflow pun dijalankan mulai dari Cikarang Barat, namun sepertinya tidak banyak membantu.

Kemacetan pun surut selepas Karawang Timur, namun kembali mengular di ruas Tol Palimanan. Kondisi ini dijumpai setiap menjelang rest area yang selalu dipenuhi kendaraan. Rest area jadi biang kemacetan, karena banyak mobil yang tidak tertampung di dalamnya justru memarkirkan mobilnya di ruas jalan sekitar rest area.

Suryo pun harus menerima kenyataan bahwa selama 9 jam dan tepatnya pukul 07.00 WIB (6/6) kami masih di Cirebon. Beruntung, kabin Almaz nan lega cukup menolong kami berlima dalam menghadapi situasi ini.

 

Setelah satu jam beristirahat, perjalanan diteruskan tanpa merubah jalur yang telah ia tentukan sebelumnya. Kemacetan kembali ditemui di beberapa ruas tol Semarang. Singkatnya, dengan trafik lalulintas yang ada, Suryo berhasil keluar tol Boyolali sekitar jam 12 siang atau 4 jam perjalanan dari Cirebon.

"Kami rehat sekitar 1 jam untuk makan siang di salah satu soto terkenal di Kartosuro, yakni Soto Ledokan. Rumah makan ini dapat ditempuh hanya 10 sampai 15 menit dari pintu Tol Boyolali," cerita Suryo.

"Perjalanan kami lanjutkan melalui Delanggu dan Klaten. Nampaknya kemacetan masih menjadi menu kami di jalur non tol ini. Kemungkinan besar, selain disebabkan oleh kenaikan volume kendaraaan, kemacetan semakin terpicu karena kegiatan masyarakat di wilayah ini dan sekitarnya untuk saling berkunjung pada sanak saudaranya." imbuhnya.

Jalur alternatif di wilayah Jatinom Klaten jadi pilihan. Jalur ini melewati wilayah Manisrenggo yang berada di belakang komplek candi Prambanan. Walau tak punya jalan yang tak terlalu besar namun relatif lancar serta memiliki pemandangan alam khas pedesaan Jawa yang elok.

"Tepat jam 16.05 saya sekeluarga dan Almaz berhasil mencapai garis finish. Total waktu tempuh (termasuk istirahat) sekitar 18,5  jam atau 11,5 jam lebih lama dari waktu yang kami angankan semula."

 

 
 
Rekomendasi

CarReview.id

    Otorider.com