BUS-TRUCK - Mengawali pekan terakhir bulan Juni (29/6/2026), dunia truk kembali meminta nyawa sia-sia.
Sebuah truk yang diduga mengalami gagal fungsi sistem pengereman alias rem blong dan menabrak sejumlah sepada motor yang sedang antre traffic light di bilangan Simpang Unisma, Bekasi Jawa Barat.
Seorang saksi mata bernama Bayu Sukma Nugraha, seperti dikutip dari Antara, mengatakan truk melaju dari arah Jakarta menuju Terminal Bekasi dengan kecepatan tinggi saat lampu lalu lintas masih menyala merah.
Menurut Bayu lagi, benturan yang diakibatkan truk tadi tidak hanya mengenai kendaraan yang berhenti di lampu lalu lintas, tetapi juga kendaraan dari arah Tol Timur menuju SMP Negeri 2 Kota Bekasi yang sedang melintas di persimpangan.
Bayu juga mengemukakan ada seorang pengemudi ojek daring dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan itu, sedangkan sekitar tujuh orang lainnya mengalami luka-luka.
Benturan itu menurutnya, membuat beberapa sepeda motor beserta pengendaranya sempat terseret sebelum truk berhenti di median jalan yang tidak jauh dari lokasi kejadian.
Kasat Lantas Polres Metro Bekasi Kota, Komisaris Polisi Gefri Agitia, juga menyebutkan bahwa kejadian nahas itu menyebabkan pengemudi ojek daring kehilangan nyawa. Untuk jumlah korban keseluruhan ada 10 orang.
Dijelaskannya, kecelakaan terjadi sekitar pukul 08.45 WIB saat truk boks Isuzu bernomor polisi B-9916-TXT yang dikemudikan Jones R. Leatemia melaju dari arah selatan menuju utara. Berdasarkan penyelidikan awal, truk diduga mengalami kegagalan fungsi pengereman saat mendekati persimpangan.
Rem blong akibat perawatan kendaraan yang buruk
Sudah terlalu sering faktor rem blong di jadikan dugaan awal jika ada kendaraan berat yang tidak bisa melakukan pengereman dan kemudian menyebebakan kecelakaan lalu lintas.
Dalam satu pertemuan di perhelatan GIIAS 2025 yang lalu (28/7/2025), Senior Investigator dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Ahmad Wildan, secara tegas menyebutkan bahwa alasan rem blong dianggapnya terlalu menyederhanakan persoalan.
Menurutnya, rem blong hanyalah gejala akhir dari banyak kelalaian dan kesalahan teknis yang sebenarnya bisa dicegah. Ditambahkannya, banyak kasus rem blong justru berasal dari perawatan sistem pengereman yang buruk.
Pria yang akrab dipanggil Pak Wildan itu memberi contoh dalam salah satu temuan saat penyelidikan sebuah kecelakaan yaitu adanya kebocoran pada sistem pneumatic.
Baca juga: Menhub Menegaskan Kalau Ada Truk Laka, Maka Pemiliknya Juga Harus Bertanggung Jawab
Baca juga: Luar Biasa, Truk Rem Blong Minta Darah Lagi !!
Kebocoraan itu adalah kondisi yang butuh proses waktu, kerap muncul karena proses menguras tangki angin di truk tidak dilakukan secara rutin.
Alhasil pembiaran itu membuat masuknya air atau bahkan oli ke dalam tabung angin, menyebabkan tekanan tidak stabil dan kinerja rem terganggu.
Selain itu, juga pernah ditemukan gejala rem blong akibat kebocoran sistem hidrolik, kampas rem yang basah, atau reservoir minyak rem dibiarkan kosong sehingga sistem pengereman kehilangan daya dorong.
Lebih parah lagi, banyak ditemui bahwa kendaraan berat yang mengalami kecelakaan ternyata menggunakan komponen yang tidak sesuai standar. Ban dan kampas rem yang dipasang sering kali punya mutu produk yang rendah.
Kondisi teknis seperti itu jelas membahayakan, apalagi jika kendaraan melaju di jalur menurun atau saat membawa beban berat. Sebab, komponen pendukung seperti exhaust brake pun kerap dibiarkan tidak berfungsi. Padahal, sistem ini pantas disebut sebagai salah satu faktor kunci untuk menjaga laju kendaraan kendaraan berat.
Selain itu, masih menurut Wildan kerap ditemukan dashboard kendaraan yang seharusnya menjadi pusat informasi, sering tidak berfungsi. Sehingga pengemudi tidak bisa mendeteksi lebih awal jika ada tekanan angin untuk sistem rem menurun.
Wildan juga mengingatkan untuk kesekian kalinya, tidak ada komponen yang bisa tiba-tiba rusak tanpa peringatan.
Kalau sudah begitu, tidak ada cara lain menurutnya sebagai tindakan pencegahan kecuali pemeriksaaan teknis secara rutin. (EW)
