Menu


Terhubung Bersama Kami

OtoDriver logoMember of :Logo PT. Bintang langit Multimedia

Copyright © 2026. Bustruck.id. All rights reserved.
BerandaMobilityBus

Organda: Transportasi Umum Indonesia Darurat BBM

Terkendala soal barcode sampai tersendatnya pasokan solar menjadi masalah yang tak terpecahkan hingga sekarang.
Bus
Jumat, 26 Juni 2026 19:00 WIB
Penulis : Erie W. Adji
Keluhan kesulitan mendapatkan solar juga sudah mulai dikeluhkan operator bus di pulau Jawa. (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)


BUS-TRUCK – Di tengah kesibukan melayani peningkatan volume penumpang di musim liburan sekolah seperti saat ini, ternyata sejumlah operator bus umum di area seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua menghadapi kelangkaan BBM jenis solar. 

Beberapa waktu lalu (12/6/2026), Aliansi Pengurus AKAP Provinsi Jambi sudah menyampaikan surat aspirasi kepada Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat kelas II Jambi yang intinya mengeluhkan keterbatasan pasokan solar yang mengganggu operasional armada mereka. 

Surat yang ditandatangi sejumlah perwakilan operator besar seperti Miyor, EPA Star, Lorena, Sinar Jaya, Ramayana, RAPI, Laju Prima, sampai Aerobus itu mendapatkan tanggapan dari Sekjen DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan. 

BACA JUGA

Saat dihubungi langsung beberapa waktu lalu (17/6/2026), pria yang akrab dipanggil Sani itu menyebutkan bahwa di wilayah Jambi ditengarai ada penyalahgunaan dalam pasokan BBM Solar subsidi namun yang memperihatinkan belum ada tindakan yang efektif untuk mengatasi kendala itu. Bahkan Sani mendapatkan infomasi jika pihak yang berwenang bersikap seperti tidak ada masalah yang pelik di lapangan. 

Ada indikasi langsir solar yang tidak ditangani sebagaimana mestinya 

Pekan ini (24/6/2026), sebuah unggahan di akun Instagram milik agen resmi Sinar Jaya di Rajabasa Provinsi Lampung berisi permohonan maaf bagi calon penumpang bus Sinar Jaya dengan keberangkatan dari wilayah Lampung yang berpotensi mengalami keterlambatan. 

Disampaikan alasan potensi keterlambatan itu akibat stok BBM Solar pada beberapa SPBU di wilayah tersebut kondisinya terbatas. 

Sani menjelaskan lagi akan hal tersebut (26/6/2026), secara spesifik yang menjadi masalah saat ini masih banyak barcode yang dipegang awak bus tak bisa dipakai karena ketika digunakan kondisinya selalu tertolak. 

Kendala itu bahkan sudah terjadi sejak bulan Februari lalu dimana pihak Pertamina melakukan unggahan ulang atas akses barcode untuk Solar secara sepihak. Dampak dari kebijakan itu, berdasarkan informasi yang diperoleh Sani, ternyata diperparah adanya indikasi munculnya kendaraan yang melakukan praktik ilegal dalam pengisian solar yang diistilahkan sebagai langsir BBM bersubsidi di sejumlah daerah. 

Praktik langsir solar itu modusnya adalah pembelian BBM bersubsidi secara berulang di SPBU tertentu dengan menggunakan kendaraan yang tangki bahan bakar yang sudah dimodifikasi agar bisa menampung volume lebih dari semestinya. 

Tindakan ilegal itu diduga untuk menimbun serta menjual kembali BBM dengan harga lebih tinggi dari tarif resmi Pertamina. 

Sebagai pelaku usaha transportasi penumpang, Sani yang juga petinggi dari PO SAN itu mengaku sudah pernah mengingatkan perihal penggunaan barcode itu yang berpotensi membuka peluang terjadinya penyelewengan di lapangan dengan berbagai cara. 

Bahkan operator SPBU juga ditengarai jadi salah satu pelaku penyelewengan itu, modusnya dengan melakukan jual beli barcode. 

Banyak awak bus harus antre mulai malam hari di sekitar SPBU agar dapat pasokan solar keesokan pagi (Foto : SAN Transport)

Baca juga: Indonesia Stop Impor Solar Bulan Juli 2026, Akan Diganti B50

Baca juga: Soal Penyimpanan Solar B50 Di SPBU Masih Perlu Diwaspadai

Pasokan BBM yang tidak sesuai kebutuhan konsumen 

Temuan lain dari pengamatan kondisi di lapangan, masih menurut Sani, terjadi secara merata di wilayah jalan lintas timur, lintas barat, serta lintas tengah yang ditandai adanya antrean panjang di sejumlah SPBU setiap harinya. 

Antrean panjang itu, lagi-lagi, ditengarai akibat pasokan BBM dari Pertamina yang tidak sesuai kebutuhan penjualan aktual di SPBU di daerah tersebut. 

Temuan pihak Organda mengindikasikan jika ada SPBU memesan BBM sebanyak 18.000 kiloliter maka pengiriman aktualnya di angka 8.000 kiloliter. Belum lagi frekuensi pengiriman banyak yang terjadi satu kali dalam satu hari, umumnya pada pagi hari. 

Kalau sudah begitu, banyak kendaraan harus antre mulai dari malam hari hanya untuk supaya mendapatkan BBM yang dikehendaki saat pengiriman datang di pagi hari. 

Sani mengutarakan kekhawatirannya bahwa kondisi seperti itu bakal sangat mengganggu operasional kendaraan angkutan umum. 

Bahkan karena harus menghabiskan waktu antre yang panjang dapat mengurangi waktu awak kendaraan untuk beristirahat. Potensi mengganggu keselamatan kendaraan angkutan umum karena awak bus yang terlalu letih tentu sangat berbahaya. 

Hingga berita ini diunggah, permintaan tanggapan dari pihak Pertamina, melalui Pertamina Patra Niaga belum diperoleh. (EW)

Memasuki bulan Juni 2026, antrean bus untuk mengisi solar juga telah terjadi di kota Makassar, Sulawesi Selatan (Foto : IDN Times)


Tags Terkait :
Solar Langka
Bagikan Ke :


Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari otodriver.com. Mari bergabung di Channel Telegram OtoDriver, caranya klik link https://t.me/otodriver, kemudian join. Anda Harus install aplikasi telegram terlebih dahulu.


Special Report: GIIAS 2026
Artikel Terkait

Tips
Perawatan Mesin Diesel yang Benar, Bisa Bikin BBM Lebih Irit dan Mesin Awet

Perawatan mesin diesel modern perlu dilakukan secara berkala agar performa tetap optimal, irit bahan bakar, dan komponen mesin lebih awet.

1 hari yang lalu


Truk
Biosolar B50 Resmi Diluncurkan, Sudah Tersedia di SPBU

Selain untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar juga untuk mengurangi efek emisi rumah kaca.

2 minggu yang lalu


Bus
Organda: Transportasi Umum Indonesia Darurat BBM

Terkendala soal barcode sampai tersendatnya pasokan solar menjadi masalah yang tak terpecahkan hingga sekarang.

1 bulan yang lalu


Bus
Tarif Baru Transjabodetabek Rp10 Ribu Akan Segera Ditetapkan

Rencana tarif baru Transjabodetabek Rp10 ribu sebagai tarif integrasi maksimal dalam tiga jam akan segera ditetapkan pemerintah DKI Jakarta melalui JakLingko.

1 bulan yang lalu

Berita
Hindari 5 Hal Ini, Agar Mobil Anda Tidak Boros BBM

BBM

2 bulan yang lalu


Berita
PEVS 2026 Hadirkan Future Mobility, dari Mobil Listrik hingga Kendaraan Udara

PEVS 2026 kembali digelar pada 29 Oktober-1 November 2026. Pameran kendaraan listrik ini menghadirkan teknologi EV, hybrid, NEV hingga solar panel dengan konsep future mobility.

2 bulan yang lalu


Berita
Sejak April Pertamina Pasok Solar Ke Semua SPBU Swasta

Semua solar ke SPBU yang beredar saat ini merupakan hasil dari kilang Pertamina di Balikpapan.

2 bulan yang lalu


Berita
Shell Pastikan Stok BBM Aman, 100 Ribu Barel

Diperkirakan, paling telat awal Desember sudah ada lagi penjualan BBM di SPBU Shell.

8 bulan yang lalu


Terkini

Bus
DCVI Anggap Operator dan Mitra Karoseri Seperti Keluarga

Ditambah upaya konsisten menjaga pelayanan purna jual agar operasional para operator tetap terjaga.

13 jam yang lalu


Bus
Juragan 99 Sepakat Boyong Puluhan Unit Bus Di GIIAS 2026

Juragan99 Trans pesan 31 unit Volvo B11R GIIAS 2026 melalui PT Indotruck Utama. Perusahaan juga sepakat bangun dua unit double decker berbasis sasis Scania K450CB untuk layanan AKAP premium.

21 jam yang lalu


Bus
PO Bagong Borong 61 Unit Bus Hino Di GIIAS 2026

Dilakukan untuk penambahan armada serta peremajaan unit.

1 hari yang lalu


Van
Semua Unit Farizon Bisa Isi Ulang Listrik di Jaringan Arista

Sebagai bagian dari pelayanan lengkap bagi pemilik armada.

1 hari yang lalu

Bus
Bus Fuso Dibuat Lebih Panjang Untuk Bidik Peluang Besar Industri Pariwisata

Dirinya mengatakan peluncuran Canter Extra Long Bus FE 84G BCL dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan transportasi wisata sekaligus mengikuti regulasi pemerintah yang terus berkembang.

1 hari yang lalu