BUS-TRUCK - Setelah delapan tahun rilis versi pertama, Sora hadir lagi dengan versi terbaru.
Ini merupakan hasil kolaborasi Toyota dan Isuzu dalam membuat bus kota model flat floor.
Pembangkit dayanya memang gabungan dua teknologi dari masing-masing pabrikan, Toyota dapat porsi menyediakan teknologi hydrogen, sementara Isuzu kebagian mengembangkan teknologi tenaga listrik.
Bus yang secara resmi rilis tanggal 5 Oktober 2026 itu merupakan perwujudan kerjsama Isuzu dan Toyota yang disepakati tahun 2025.
Porsi ketersediaan tenaga listrik jadi tugas paket baterai lithium berkapasitas besar, 113 kW. Untuk peran daya dari hydrogen, kini kapasitas tangkinya 20 persen lebih kecil dibandingkanversi pertama.
Meski kedua pembangkit daya gabungan itu dikemas dalam dimensi yang lebih kecil namun klaim jarak tempuhnya bertambah 100 kilometer dibandingkan Sora generasi pertama, kini bisa menempuh Jarak sampai 300 kilometer.
Untuk menggerakan bus dipakai dua motor listrik dengan potensi tenaga di masing-masing unit sebesar 110 kW dengan torsi puncak 485 Nm. Potensi besaran daya kombinasi keduanya 220 kW dengan torsi tertinggi 970 Nm.
Bahan bakar hidrogennya sendiri ditampung pada tangka bertekanan tinggi dengan volume 471 liter.
Baca juga: Volvo BZR Meluncur di Indonesia, Sasis Bus Listrik Bertenaga 540 Hp
Baca juga: Kemenhub: Kecelakaan Bus Tertinggi Ketiga Nasional
Untuk memudahkan dalam perawatan, semua komponen daya listrik menempati bagian bawah bus, untuk modul pembangkit energi hidrogen berlokasi di atap bus.
Hidrogen bisa diisi ulang sampai penuh dari posisi kosong selama 10 menit.
Bus dengan kapasitas penuh 70 penumpang itu punya panjang 10.545 mm, lebarnya 2.485 mm, dan tinggi 3.440 mm.
Tersedia 19 jok untuk duduk penumpang, ada kuota 50 penumpang yang berdiri.

Seperti umumnya bus buatan Jepang, meski penampilan terlihat tidak eksotis namun soal fitur pandu kemdui sampai keamanan pasif maupun aktif lengkap adanya.
Salah satunya, Sora dilengkapi Emergency Driver Stop System (EDSS) yang terhubung dengan Driver Status Monitor (DSM). Jika system mendeteksi pengemudi bus sedang mengalami masalah dalam mengemudi maka secara otomatis bus akan melambatkan sampai kemudian berhenti sama sekali dimana rem tangan berfungsi penuh.
Terpasang juga front blind-spot monitor yamg memantau secara ajktif keberadaan pejalan kaki maupun pesepeda yang beradsa di area depan bus. (EW)











