OTODRIVER – Rencana pemerintah untuk memasarkan bahan bakar jenis solar yang baru dengan kode B50 mulai bulan Juli 2026.
Secara awam, bahan bakar dengan kandungan nabati dari tanaman kelapa sawit itu punya tabiat dalam hal higroskopis alias mudah menyerap air. Kemudian berpotensi menggumpal jadi cairan padat atau jeli.
Selain itu, karena sifatnya yang mengikat kotoran maka konsumsi solar nabati bias melarutkan lemak nabati yang kemudian dapat menyumbat saluran yang mengairkan bahan bakar.
Begitu pula soal korosi akibat tingginya kadar air, terlebih pada sistem pasokan bahan bakar bertekanan tinggi seperti common rail.
Namun secara umum pemakaian pelumas untuk mesin diesel memang butuh perhatian khusus dibandingkan pemakaian pelumas untuk mesin bensin.
Sebagaimana dijabarkan oleh Senior Analys PCO & Specialties PT. Pertamina Lubricants, Mulianto, yang ditemui langsung di sela Forum Diskusi Sidkom, tema: Mobil Diesel Masa Kini Dan Nanti: Ketangguhan VS Kehematan, di Jakarta pekan ini (27/6/2026).
Menurutnya, musuh utama oli diesel jelaga atau soot alias kerak di ruang bakar. Karena fungsi pelumas di mesin diesel yang mengikat jelaga dari hasil pembakaran tadi bertujuan agar tidak malah menempel di dinding internal mesin.
Hal itulah yang menjadi kemudian membuat oli diesel akan menghitam lebih cepat.
Sejurus kemudian, Mulianto meyakini bahwa ketangguhan mesin diesel bukan tanpa penyebab, selain karena karakter dasar, soal perawatan dalam hal pemakaian pelumas mesin punya eran sangat penting.
Ia menegaskan, performa maksimal, efisiensi operasional, dan umur pakai komponen bukanlah sebuah kebetulan. Itu semua merupakan hasil dari kedisiplinan dalam merawat kendaraan.
Oli mineral dan sintentik dipakai untuk spesifikasi mesin diesel yang berbeda
Diuraikannya lagi, pemahaman soal merawat mesin diesel juga bermula dengan ketepatan memilih pelumas. Secara prinsip, masih menurut Mulianto, di pasaran juga tersedia oli mineral dan sintentik untuk mesin diesel.
Dari sisi penggunaan, oli mineral akan maksimal penggunaannya sampai rentang jarak antara berkendara 5.000 kilometer.
Untuk oli jenis sintetik akan punya rentang pemakaian antara 7.500-10.000 kilometer.
Berbeda dalam hal rentang jarak pemakaian, oli sintetik diklaimnya bisa lebih mampu meredam panas ekstrem dari mesin dibandingkan fungsi pendinginan dari oli jenis mineral.
Mulianto kembali mengingatkan, pelumas jenis mineral hanya bisa direkomendasikan untuk mesin diesel konvensional dan non-turbo.
Sementara untuk jenis sintetik peruntukkannya untuk mesin diesel turbo dan generasi terbaru. (EW)
