OTODRIVER - OLXmobbi mencatat mobil bekas (mobkas) merek China, khususnya berbahan bakar minyak (ICE) yang sudah memasuki pasar tiga hingga lima tahun terakhir, mengalami tingkat depresiasi harga yang lebih besar dibandingkan mobil merek Jepang di segmen yang setara.
"Faktanya memang disayangkan mobil-mobil China yang ICE-nya sudah masuk itu depresiasi lebih besar dibandingkan mobil-mobil Jepang," ujar Direktur OLXmobbi, Agung Iskandar saat ditemui di Jakarta, Jumat.
Ia mencontohkan, pada model yang berada di segmen serupa, misalnya di segmen MPV, Wuling Cortez yang kerap dibandingkan dengan Toyota Innova, tingkat penurunan harga bekasnya lebih tinggi.
Menurut dia, selisih depresiasi tersebut berkisar 20-30 persen lebih besar dibandingkan mobil Jepang.
"Depresiasinya itu sekitar 20-30 persen lebih besar dibandingkan mobil-mobil Jepang. Jadi kalau misalnya Innova, dalam setahun depresiasinya antara 6-10 persen, Cortez bisa 8-15 persen lebih tinggi," ujarnya.
Ia menjelaskan, Kijang Innova sebagai pembanding di segmen tersebut masih mencatatkan nilai jual kembali yang lebih stabil dibandingkan Cortez, meskipun keduanya berada dalam kelas kendaraan yang relatif sebanding.
Perbedaan ini juga berlaku pada tipe-tipe mobil Jepang dan China lainnya. Meski begitu Agung menambahkan, saat ini pasar mobil bekas merek China masih didominasi merek Wuling, karena lebih dulu masuk pasar Indonesia dibanding merek Tiongkok lainnya.
Menurut dia, perbedaan tingkat depresiasi ini terjadi seiring dengan masih terbatasnya rekam jejak jangka panjang mobil merek China di pasar Indonesia, terutama untuk model-model yang baru memasuki siklus usia tiga hingga lima tahun.
Selain Wuling, OLXmobbi juga mencatat merek China lain seperti DFSK mulai masuk ke pasar mobil bekas. Namun, kontribusinya masih sangat kecil karena jumlah unit yang beredar di pasar juga masih terbatas. (AB)
