Jadi Trend Dunia, Kenapa Banyak Pabrikan Mobil Belum Lirik Produksi EV Di Indonesia?

Jadi Trend Dunia, Kenapa Banyak Pabrikan Mobil Belum Lirik Produksi EV Di Indonesia?

Para ahli dan analis otomotif sudah memprediksi jika mobil listrik akan jadi dipastikan menjadi hal penting di masa depan. Dan hal itu mulai berlangsung di industri otomotif dunia.

Namun di lapangan, industri otomotif di Indonesia dianggap belum sejalan dengan yang terjadi saat ini. Di mana masih berorientasi pada mengejar volume produksi kendaraan berbahan bakar minyak.

Seperti dikatakan Lin Che Wei dari Independent Research & Advisory Indonesia (IRAI), sebagai Tim Asistensi Menko Perekonomoian RI. Menurutnya industri otomotif di luar negeri sudah bergerak ke arah mobil listrik serta kendaraan yang lebih ramah lingkungan dan Indonesia terbilang telat bergerak.

"Investasi yang dilakukan sepanjang 2020-2025, sederet pabrikan menggelontorkan miliaran USD untuk memproduksi mobil listrik," katanya pada webinar (10/6).

Bahkan menurut Lin lawannya bukan lagi sesama produsen mobil, namun kini raksasa industri IT turut bermain seperti Huawei, Baidu hingga Xiaomi. Termasuk juga pabrikan mobil baru baru di Asean, Vinfast asal Vietnam.

Bahkan kritikan juga disampaikan pihak Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia. Melalui juru bicaranya mengungkapkan jika industri otomotif, khususnya manufaktur belum bergerak ke arah produksi mobil listrik.

"Sektor otomotif rantai pasoknya panjang, mulai dari hulu (ada) baja, staineless steel, aluminium, tembaga, kaca. Semua telah tersedia atau dalam waktu dekat tersedia. Tantangannya adalah industri tersier atau manufaktur di Indonesia belum bergerak dalam produksi mobil listrik tersebut," katanya.

Hal tersebut langsung dijawab oleh Jongkie D. Sugiarto, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Dirinya menyatakan jika lambatnya progres produksi mobil listrik tersebut berujung kembali lagi ke daya beli masyarakat.

"Daya beli masyarakat ada di harga bawah Rp 250 juta. Mobil-mobil inilah yang bs dibeli dengan harga tersebut. Seperti LCGC dan low MPV. Di Indonesia dominasinya di jenis mobil tersebut," katanya.

Saking besarnya, market Low MPV di Indonesia mampu menghasilkan market hingga 51 persen dan sumbangan LCGC sebesar 21 persen.

"Kalau mau produksi EV tentu bisa, tapi pasarnya yang harus Rp 300 juta ke bawah. Sekarang harganya saja masih Rp 600-700 juta. Secara volume kecil dan belum menarik perhatian produsen. Mungkin saat ini bisa dimulai dengan memasuki era hybrid, baru kemudian ke EV jika harganya sudah rendah," kata Jongkie.

Simak Video : VIDEO: C-HR Hybrid Tembus 28 KM/Liter

 
 
Rekomendasi

Bus-truck.id

    Otorider.com