BUS-TRUCK – Suspensi truk umumnya menggunakan konstruksi yang relatif sederhana. Namun, ada satu teknologi yang cukup unik dan berbeda dari kebanyakan sistem suspensi kendaraan berat, yakni Boomerang Suspension.
Sesuai namanya, sistem ini menggunakan komponen berbentuk menyerupai bumerang untuk menghubungkan dua axle belakang. Desain tersebut memungkinkan roda bergerak mengikuti kontur permukaan jalan dengan artikulasi yang lebih besar.
Menurut Lexicar.com.br, teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan asal Brasil, Engesa (Engenheiros Especializados S.A.), pada 1969. Menariknya, Boomerang Suspension awalnya bukan dirancang untuk kendaraan tempur, melainkan untuk kebutuhan truk pengangkut hasil eksplorasi minyak.
Saat itu, aktivitas eksplorasi minyak di Brasil banyak dilakukan di wilayah terpencil dengan kondisi jalan yang buruk. Truk konvensional kerap kesulitan melewati permukaan tidak rata. Engesa kemudian mengembangkan sistem suspensi yang mampu menjaga roda tetap menapak ketika kendaraan melintasi medan ekstrem.
Prinsip kerjanya mengandalkan mekanisme penghubung berbentuk bumerang di antara dua axle belakang. Ketika salah satu roda melewati gundukan atau lubang, mekanisme tersebut memungkinkan perubahan posisi axle sehingga roda lainnya dapat mengikuti kontur permukaan jalan.
Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan artikulasi suspensi yang besar. Dengan demikian, truk memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan traksi ketika melintasi medan berat. Sistem ini juga relatif sederhana dibandingkan suspensi independen yang kompleks karena tidak membutuhkan banyak komponen elektronik atau sistem hidraulik.
Engesa kemudian menerapkan teknologi tersebut pada sejumlah kendaraan. Salah satunya truk EE-50 berpenggerak 6x6. Sistem serupa juga digunakan pada Mercedes-Benz LG-1519 Mamute, truk militer yang dikembangkan bersama Engesa untuk Angkatan Darat Brasil. Truk ini berbasis keluarga Mercedes-Benz L-Series, yang masih berkerabat dekat dengan L911 alias Mercy Bagong.
Bukan hanya truk, teknologi ini juga merambah kendaraan militer. Engesa menggunakannya pada kendaraan intai lapis baja EE-9 Cascavel dan pengangkut personel lapis baja EE-11 Urutu. Keduanya menggunakan konfigurasi enam roda dengan kemampuan melintasi medan berat.
Meski memiliki keunggulan, Boomerang Suspension tidak berkembang menjadi teknologi populer di industri truk dunia. Salah satu alasannya adalah konstruksi yang cukup spesifik sehingga tidak mudah diterapkan pada berbagai jenis kendaraan.
Selain itu, mekanisme penghubung dan sistem penggeraknya membutuhkan perawatan tersendiri. Sementara itu, produsen truk lain sudah memiliki pilihan suspensi tandem seperti walking beam dan equalizer beam yang lebih dikenal, mudah diproduksi, mudah dirawat, serta sesuai untuk kebutuhan operasional mereka.
Boomerang Suspension akhirnya lebih dikenal sebagai salah satu inovasi khas Engesa, bukan sebagai standar baru suspensi truk. Namun, teknologi ini menjadi contoh bagaimana kebutuhan menghadapi medan ekstrem dapat melahirkan rancangan mekanis yang berbeda dari kebiasaan industri otomotif. (SS)
