OTODRIVER – Krisis energi yang ada saat ini di lain sisi membawa kesuraman bagi industri mobil dengan bahan bakar mesin dari fosil. Belum ada yang bisa memastikan kapan krisis ini akan berakhir. Bisa saja dalam waktu dekat, atau sebaliknya bisa sangat panjang.
Di sisi lain, muncul alternatif teknologi yang saat ini terasa lebih rasional dari sisi biaya operasional, yakni mobil listrik.
Krisis sebagai akselerasi
Pasar BEV sebelumnya sempat mengalami penurunan, akan tetapi setelah pecah perang dan krisis mengancam, maka pasar pun memberikan respons untuk kembali memilih mobil listrik.
Seiring dengan itu, mobil berteknologi eletrifikasi pun dikabarkan mendapatkan kenaikan juga.
“Kenaikan harga BBM tentu akan membuat konsumen semakin rasional dalam menghitung biaya kepemilikan kendaraan. Kami melihat hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang mempercepat minat terhadap EV,” terang CEO Vinfast Indonesia, Kariyanto Harjosumarto saat dihubungi Otodriver, Selasa (05/05/2026).
Senada dengan Vinfast, Xpeng Indonesia pun angkat bicara mengenai hal ini, “Dilihat dari sisi konsumen, BEV menawarkan keunggulan biaya operasional yang lebih rendah, dengan mempertahankan keunggulan mobilitas dan kenyamanan yang biasanya diberikan ICE,” ungkap VP Marketing Xpeng Indonesia, Hari Arifianto melalui pesan singkat.
Masuk Transisi Era EV
Hanya dalam waktu 2-3 tahun mobil listrik mampu menguasai 10% pasar nasional. Ini merupakan sebuah rekor tersendiri bagi dunia otomotif di Indonesia.
Seiring itu ekosistem EV pun kian berkembang. Pembangunan infrastruktur seperti charging station yang semakin banyak tersedia hingga pelosok daerah menjadi akselerator lainnya.
Melihat dari geopolitik yang ada saat ini, kestabilan harga minyak tidak bisa diprediksi dan apabila perang semakin berkecamuk bukan tidak mungkin harga BBM akan semakin terbang tinggi.
Dengan segala situasi yang ada saat ini, di manakah posisi Indonesia?
“Masyarakat telah merasakan keunggulan mobil listrik yang disusul dengan kenaikan permintaan pasar dan sepertinya permintaan akan EV akan semakin besar,” ungkap President Director PT Indomobil National Distributor, Tan Kim Piauw.
Sedangkan Kariyanto mengatakan bahwa saat ini kita ada di masa transisi untuk EV.
“Saya rasa kita tengah menyaksikan transisi menuju penggunaan EV yang lebih luas,” tutur pria yang akrab disapa Kerry ini.
Semakin menarik, kehadiran mobil listrik ini juga dengan hadirnya support berbasis informasi teknologi yang banyak dibenamkan ke unit EV.
“Melihat dari sisi segmen BEV premium dan Information Teknologi, kenaikan harga BBM Fosil merupakan momen yang baik untuk akselarasi peralihan energi alternative terbarukan,” tutup Hari. (SS)
