OTODRIVER - Wuling Confero pertama kali mengaspal di Indonesia pada 2 Agustus 2017. Mobil ini pun langsung berjibaku menghadang supremasi LMPV berpenggerak roda belakang Jepang yang dihuni oleh Avanza dan Xenia saat itu.
Dengan munculnya Avanza-Xenia berpenggerak roda depan pada November 2021, model lawas RWD pun masuki masa pensiun. Dengan demikian, Confero pun hadir tanpa lawan di segmen LMPV RWD.
Jika dilihat dari umur, bulan Agustus nanti Confero akan berulangtahun yang ke 9. Dan selama kiprahnya, mobil ini bisa dikatakan tidak banyak mendapatkan upgrade yang sifatnya teknis. Beberapa yang dilakukan sifatnya kosmetik saja.
Di pasar China mobil ini disebut sebagai Hongguang S1 yang debutnya rampung pada 2017 dan tongkat estafetnya diteruskan melalui Hongguang S3 pada tahun itu juga.
Beberapa tahun lalu sempat terdengar selentingan mengenai penerus Confero di Indonesia. Dari sisi spesifikasi mesin, transmisi dan layout RWD tetap dipertahankan.
Hal inilah yang kemudian membuat Hongguang S3 jadi bahan spekulasi sebagai Next Gen Confero di Indonesia. Tapi kemudian rumor tersebut seolah lenyap ditelan gelombang kedatangan mobil listrik.
Belum ada pengganti
Saat ini Confero memegang status sebagai LMPV RWD satu-satunya yang tersisa. Lalu bagaimana nasib Confero ke depannya, apakah akan ada suksesi seperti yang terjadi di China ataukah berhijrah menjadi FWD?
Marketing Director Wuling Motors Indonesia, Ricky Christian pun memberikan gambaran mengenai kondisi tersebut.
“Saat ini kami belum ada rencana melakukan penyegaran ataupun memperkenalkan produk baru untuk Confero. Kami masih fokus pada produk-produk terbaru Wuling, yakno Darion dan Eksion,” jelasnya saat dihubungi melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.
Ricky menambahkan bahwa Confero masih memiliki konsumennya sendiri di segmen LMPV. “Sampai April 2026, secara komulatif telah terjual lebih dari 60.000 unit sejak pertama kali dipasarkan di Indonesia,” jelasnya.
Berjaya di daerah
Berdasarkan pantauan dari pemilik Confero di daerah seperti Yogyakarta dan Surakarta, menjelaskan bahwa mobil ini masih cukup diminati.
Catur Sunu, seorang pemilik Confero yang menggunakannya sejak 2018 silam mengatakan bahwa Confero dilirik karena penggerak roda belakang dan harganya.
“Harganya paling masuk dan RWD lebih cocok untuk menjelajah daerah pegunungan,” tutur pengusaha di bidang pertanian yang sering blusukan di kawasan pegunungan seperti Gunung Kidul, Magelang hingga Salatiga ini.
Menurut Sunu, dari sisi konsumsi bahan bakar Confero memang bisa mengungguli keiritan mobil Jepang. Tapi pria yang berdomisii di Bantul ini mengatakan bahwa mobil dengan penggerak roda belakang ini cukup bisa diandalkan saat melahap tanjakan.
Mohammad Irawan, yang mulai menggunakan mobil ini sejak 2021 lalu juga mengatakan hal senada.
“Untuk mobil RWD yang proper dan terjangkau, Confero masih jadi andalan saya. Fleksibilitas dalam melahap medan seperti jalanan menanjak,” jelas pria yang tinggal di pinggiran Surakarta ini.
Rival dari segmen lain
Confero memang jadi last man standing di segmen LMPV RWD. Akan tetapi bukan berarti tidak punya rival RWD dari segmen lainnya.
Jika melihat kondisi saat ini, dari sisi layout dan mesin ia akan bertemu dengan Daihatsu Granmax minibus dan juga Suzuki APV. Dan dari segi harga Confero masih diuntungkan dari sisi harga.
Sebuah Confero 1.5 varian terendah dibanderol di angka mulai Rp 188,3 juta, sedangkan untuk GranMax 1.5 Minibus di harga mulai Rp233,35juta. Sementara untuk Suzuki APV GE dicanteli banderol mulai Rp 227 juta. (SS)
