OTODRIVER - Saat ini mobil berbahan bakar fosil seolah menjadi target untuk segera disudahi kiprahnya. Kehadiran mobil listrik menjadi wacana baru yang seolah menjadi eksekutor mati mobil-mobil konvensional.
Tapi apakah benar demikian?
Bosch, pabrikan yang bergerak dalam bidang teknologi dan penyedia perangkat bagi dunia otomotif berpendapat bahwa mobil dengan mesin bensin tidak akan hilang, namun mereka akan berbagi ruang dalam menggerakkan otomotif di masa depan.
Mengutip dari Motor1, bahkan Bosch percaya bahwa 70 persen mobil di Amerika Utara hingga 2035 masih menggunakan mesin pembakaran internal. Artinya hitungan ini terhitung juga mesin yang bakar yang dikaryakan untuk penggerak mobil hybrid.
Kondisi ini ditegaskan juga oleh Insideev yang mengatakan bahwa mesin bakar tidak akan hilang dan bakal semakin merangkul teknologi elektrifikasi.
Salah satu teknologi yang tengah banyak dilirik adalah Range Extender Electric Vehicle (REEV). Ford dikabarkan bakal merombak F-150 Lightning EV dengan penambahan mesin untuk memperluas jangkauannya.
Kemudian menyusul Scout yang bakal memperkenalkan SUV dan pikap EV dengan tambahan mesin bensin sebagai generator. Termasuk halnya Nissan yang menjadi pelopor teknologi ini dengan e-Powernya di mana label Jepang itu tengah menyiapkan generasi selanjutnya dari Roque
Bahkan mengenai perihal REEV ini produsen dari China justru berada selangkah di depan. Pabrikan seperti BAIC malahan sudah merilis produk SUV REEVnya yakni BAIC BJ40e. Kalau tidak ada aral melintang mobil ini bakal masuk ke Indonesia dengan menyandang nama BJ41.
Kembali pada terawangan dari Bosch, meski percaya bahwa mobil dengan asupan bahan bakar fosil akan tetap mendapatkan tempat tersendiri di percaturan mobil dunia atau setidaknya pada cakupan di Amerika Utara, namun kendaraan full listrik murni juga bakal mendapatkan ruang tersendiri.
"Kendaraan listrik bertenaga baterai masih akan memiliki tempat di pasar," menurut Presiden Bosch Amerika Utara, Paul Thomas.
“Mereka akan menyumbang akan menyumbang 30 persen dari pasar di Amerika Serikat satu dekade dari sekarang,” lanjutnya seperti dikutip dari insideev.
Seperti halnya di Indonesia ataupun negeri lainnya, pasar otomotif Amerika Serikat dipengaruhi oleh subsidi EV dan penarikan subsidi ini baru-baru ini dan hadirnya peraturan emisi akan semakin menjepit produsen mobil yang menjual EV. Di sisi lainnya permintaan mobil hybrid justru mengalami kenaikan.(SS)
