OTODRIVER - Selain kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, wilayah Asia Barat seperti India juga agresif dalam menyongsong era elektrifikasi. Pemerintah India punya ambisi untuk memperbesar porsi kendaraan non fosil sampai 30 persen sampai tahun 2030.
Seperti dicontohkan oleh pemerintah kota New Delhi, dikutip dari Reuters, akhir bulan lalu sudah mencanangkan insentif khusus bagi warganya yang berniat untuk menggantikan kendaraan fosil mereka ke non fosil.
Besaran insentif yang sudah dianggarkan tak tanggung-tanggung, sebesar 150 miliar Rupee, setara Rp28 triliunan.
Selain untuk menekan secara drastis tingkat polusi di kota yang pada periode 2025-2026 populasi berbagai jenis kendaraan bermotornya sekitar 8 jutaan unit itu, langkah tersebut diambil untuk penghematan energi.
Rasio kepemilikan kendaraan bermotornya juga termasuk penuh sesak, 522 unit kendaraan per 1.000 orang penduduk. Insentif itu diberikan bagi pemilik kendaraan fosil yang melakukan penggantian kendaraan jenis motor, mobil penumpang, maupun pikap ke versi non fosil, khususnya listrik.
Program yang efektif berlaku mulai tanggal 1 Juli 2026 hingga 31 Maret 2030 itu juga akan membebaskan pajak jalan dan biaya registrasi, serupa BBN, untuk pembelian kendaraan listrik dengan harga di bawah 3 juta Rupee, setara Rp565 jutaan.
Sebelumnya pengenaan biayanya di rentang 4-10 persen dari harga mobil. Kebijakan ini juga diiringi proses meningkatkan jumlah charging station seantero New Delhi menjadi 32 ribu titik.
Namun untuk kepemilikan kendaraan hibrida atau yang sejenis, belum termasuk dalam paket kebijakan dalam waktu dekat. (EW)
