Mengenal Lebih Dekat Mobil Dengan Sisa Emisi Air

Mengenal Lebih Dekat Mobil Dengan Sisa Emisi Air

Era mobil listrik sudah di depan gerbang Indonesia. Walau demikian, respons industri otomotif nasional pada kehadiran era mobil ramah lingkungan ini cukup positif. Alternatif disodorkan mulai dari mobil hybrid, PHEV hingga mobil listrik murni bagi pasar Indonesia, namun ada satu lagi mobil ramah lingkungan yang seolah masih malu-malu digemborkan, yakni Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV).

Padahal jika dibandingkan dengan mobil mesin konvensional, efisiensi yang dicapai FCEV mampu mencapai 80% lebih baik. Lantas, Apakah FCEV itu?

Mobil FCEV sempat dipamerkan di Indonesia beberapa tahun lalu

 

Pada dasarnya FCEV punya prinsip sama dengan mobil full elektrik. Keduanya mengandalkan motor listrik sebagai penggeraknya dan menyimpan listriknya pada baterai. Hanya saja terjadi perbedaan dalam proses pengisian tenaga listriknya. Jika EV melakukan pengisian dengan cara charging pada sumber listrik di rumah atau tempat pengecasan, sedangkan FCEV mengandalkan reaksi hidrogen pada fuel cellnya.

Unit fuel cell inilah yang menghasilkan listrik kemudian hasilnya disimpan pada baterai dan akan digunakan sebagai daya penggerak. 

 

Sebuah FCEV memiliki beberapa bagian untuk dapat beroperasi seperti unit motor listrik, fuel cell stack, baterai dan tangki hidrogen. Kehadiran fuel cell berikut tangki hidrogen ini menjadikan baterai FCEV lebih kompak dibanding EV.  

Dikutip dari hygen.com, prinsip kerja fuel cell pada mobil bertenaga hidrogen sangat sederhana. Hidrogen yang tersimpan pada tangki dialirkan dan direaksikan dengan oksigen dari udara pada unit fuel cell. Perangkat inilah yang mengubah hidrogen dan oksigen menjadi uap air dan listrik.

Zat buang atau "emisi" dari FCV hanya berupa panas pada fuel cell dan juga air, sehingga bisa dikatakan bahwa mobil ini beremisi nol. FCEV dikatakan lebih praktis dibandingkan dengan EV lantaran tidak perlu melakukan charging dan proses pengisian hidrogen pada tangkinya dapat dilakukan sesingkat mobil konvensional.

Namun, dengan segala keunggulan tersebut FCEV justru punya kelemahan mendasar yakni hidrogen. Dibutuhkan infrastruktur yang cukup masif dalam pengadaan hidrogen berikut dengan stasiun pengisiannya. Untuk menghasilkannya butuh energi yang besar dan dianggap sebagai bentuk polusi baru.

Pemakaian pertama fuel cell pada kendaraan terjadi pada sebuah traktor pertanian hasil oprekan sebuah perusahaan asal Amerika Serikat, Allis-Chalmers di tahun 1959. Saat itu generasi perintis ini hanya mampu menyemburkan daya 15 watt saja.

Nampaknya General Motors pun mencoba mengaplikasikan teknologi ini pada mobil yang diwujudkan pada tahun 1966 dengan Chevrolet Electrovan. Namun proyek ini terpaksa stop lantaran terlalu mahal dan belum ditemukan tangki penampung hidrogen yang cukup aman jika terjadi benturan.

Saat ini dikenal beberapa FCEV yang telah beredar di pasaran, antara lain Honda Clarity, Toyota Mirai dan Hyundai ix35 FCEV.

 

Simak Video : VIDEO: Supra VS Z4, Siapa yang Termahal?

 
 
Rekomendasi

CarReview.id

    Otorider.com