OTODRIVER - Penjualan mobil di Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut penjualan mobil naik 33,3 persen secara year on year (yoy). Sementara kendaraan listrik dan mobil hybrid tumbuh lebih tinggi, yakni di atas 40 persen.
Hal tersebut disampaikan Airlangga dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Airlangga, pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas ekonomi masyarakat mulai bergerak positif.
Hal itu juga terlihat dari konsumsi listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Berdasarkan data PLN, konsumsi listrik SPKLU hingga Juni 2026 telah mencapai 62,4 juta kilowatt hour (kWh).
Angka tersebut bahkan sudah melampaui konsumsi listrik SPKLU sepanjang 2025 yang tercatat 48,5 juta kWh.
Selain sektor otomotif, penjualan listrik secara keseluruhan juga tumbuh 10,8 persen. Jika dirinci berdasarkan kelompok konsumen, konsumsi listrik rumah tangga naik 12,3 persen, bisnis 10 persen, dan industri 6,5 persen.
“Kenaikan ekonomi juga bisa dilihat dari kegiatan yang mengonsumsi listrik. Itu juga naik 10,8 persen dan penjualan semen 13,5 persen year on year,” ujar Airlangga.
Dengan sejumlah indikator tersebut, pemerintah melihat mobilitas masyarakat dan aktivitas industri masih menunjukkan tren positif.
SPKLU Terus Diperluas
Pertumbuhan kendaraan listrik juga diikuti dengan penambahan infrastruktur pengisian daya.
Ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Indonesia akan terus diperluas melalui kolaborasi antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak swasta.
CEO PT Niscala Energi Indonesia (iGreen+), Lawrence, mengatakan pihaknya bersama PT Pos Indonesia, PLN, dan sejumlah mitra ekosistem menargetkan perluasan jaringan hingga 200 titik SPKLU.
Hal tersebut disampaikan Lawrence saat meresmikan fasilitas pengisian daya ultra cepat di Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Jakarta, pada 8 Agustus 2026.
“Komitmen kami berfokus pada kebutuhan pelanggan, dengan menghadirkan pengisian daya yang andal dan mudah dijangkau,” ujar Lawrence seperti dikutip dari Antara.
Di lokasi tersebut tersedia enam unit Ultra Fast Charger DC berkapasitas 120 kW dengan konektor CCS2. Penyediaan fasilitas ini melibatkan PT Pos Indonesia untuk penyediaan lahan, sementara pasokan listrik didukung PLN.
Saat ini iGreen+ mengoperasikan 19 stasiun dengan 132 perangkat charging gun yang tersebar di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Bali. Lima stasiun baru juga disiapkan untuk beroperasi dalam waktu dekat.
Pemerintah sendiri telah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 24.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Pengembangan SPKLU periode 2025-2030 sebagai acuan pengembangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik di Indonesia.
Konsumen Sudah Menentukan Pilihannya
Menariknya, pertumbuhan kendaraan elektrifikasi juga menunjukkan bahwa konsumen mulai menentukan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hal tersebut terungkap dalam Dialog Otomotif Nasional bertajuk The Right Fit for Indonesia: Teknologi Elektrifikasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Indonesia yang digelar Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di sela GIIAS 2026, 5 Agustus lalu.
Pengamat Kebijakan Ekonomi Perbanas, Joshua Pardede, mengatakan masyarakat sebenarnya sudah menemukan teknologi elektrifikasi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Menurut Joshua, pertumbuhan kendaraan elektrifikasi bukan semata-mata karena konsumen menganggap salah satu teknologi, baik Battery Electric Vehicle (BEV), Hybrid Electric Vehicle (HEV), maupun Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), lebih unggul.
Pilihan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kebutuhan dan pola penggunaan kendaraan masing-masing konsumen.
Dengan kata lain, konsumen tidak hanya memilih berdasarkan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana kendaraan tersebut akan digunakan sehari-hari.
Tren tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi Indonesia mulai semakin matang. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dan cenderung memilih teknologi yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan mobilitas mereka.(EW)
