OTODRIVER - Speedometer digital saat ini cukup jamak ditemui. Bahkan bisa dikatakan bahwa lebih dari 50% mobil menggunakan jenis speedometer yang menyuguhkan informasi dalam wujud visual berupa grafik ataupun gambar.
Inovasi ini dipelopori oleh Aston Martin Lagonda Series 2, sebuah saloon supermewah yang diperkenalkan pada 1976 di London Motor Show.
Mobil ini langsung mendapat atensi dengan berbagai teknologi yang disodorkan dan juga desain yang cukup berani.
Namun di balik kehebohan itu, ternyata Lagonda Series 2 ini sebenarnya belum siap untuk ditampilkan pada khalayak. Model yang dipajang bahkan belum bisa dikendarai alias dummy.
Walau demikian khalayak menyambutnya dengan penuh antusias dan rasa ingin tahu yang sangat besar.
Salah satu yang paling menonjol dari mobil ini adalah desain interior dengan menggunakan cluster digital dan dilengkapi dengan tombol sentuh. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Tampilan angka-angka digital pada dasbor ini menjadikan Lagonda Series 2 tampil melebihi zamannya. Beberapa menyebut bahwa penerapan teknologi baru itu terinspirasi dari NASA.
Dari tampilan luar, desain eksteriornya pun tergolong radikal dengan tarikan garis bodi kaku dan tajam. Bagian depannya dilengkapi dengan lampu pop up yang tengah menjadi trend baru di masa itu.
Walaupun merupakan sedan 4 pintu, namun ia punya atap yang landai dan rendah. Desain luarnya yang disebut sebagai wedge shape membuatnya cukup berbeda dengan model Lagonda sebelumnya.
Mengutip dari thedrive.com, Aston Martin sukses menyihir pasar saat itu dan bahkan mereka mendapatkan 76 pesanan untuk mobil yang belum siap produksi itu.
Keberhasilan menggaet pasar ini ibarat mimpi buruk. Aston Martin mengerahkan upayanya untuk segera berada di jalur produksi mengalami kesulitan dalam mengoperasikan semua data ke dalam wujud tampilan digital.
Kendala R&D di bagian dashboard ini mengancam gagalnya seluruh proyek. Singkatnya Aston Martin saat itu terancam lumpuh salah satunya dikarenakan proyek Lagonda Series 2 ini.
Dengan terseok-seok akhirnya sajian digital pada dashboard dan fitur tombol sentuh bisa teratasi dan deliveri baru bisa dilaksanakan pada 1979.
Harga Lagonda Series 2 pun jauh lebih mahal dari Ferrari 400 dan Maserati Kyalami tetapi lebih murah daripada Rolls-Royce Corniche.
Keluhan demi keluhan mengenai dasbor ‘canggih’ itu pada akhirnya memaksa Aston Martin realistis. Memasuki awal 1980 semua perangkat speedometer digital dan tombol sentuh ditanggalkan.
Problem yang selama ini membelenggu pun hilang. Mobil yang dibekali dengan mesin V8 5.340 cc yang diakurkan dengan transmisi 3 speed otomatis Torqueflite dari Chrysler tetap diproduksi hingga 1985.
Namun tetap saja dibanderol sangat mahal dan menjadi besutan orang-orang kaya terutama di Inggris, Timur Tengah dan Amerika. (SS)
