OTODRIVER – BYD semakin serius memperkuat kehadirannya di pasar otomotif Indonesia. Tak hanya menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar penting di kawasan Asia Tenggara, BYD kini memiliki fasilitas produksi yang dikelola dan diperuntukkan bagi kebutuhan mereknya di tanah air.
Dengan demikian, BYD menjadi merek asal China pertama di Indonesia yang memiliki pabrik khusus miliknya sendiri.
Fasilitas tersebut dikelola oleh PT BYD Auto Indonesia dan berdiri di atas lahan seluas 126 hektar. Pembangunan pabrik ini menelan investasi sekitar Rp11,6 triliun.
Dari sisi kapasitas produksi, fasilitas tersebut dirancang mampu memproduksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun apabila beroperasi dalam kapasitas maksimal.
Tak hanya soal jumlah produksi, keberadaan pabrik ini juga membawa dampak terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Saat ini fasilitas BYD tersebut diklaim melibatkan sekitar 5.000 pekerja lokal.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah secara signifikan. Jika pabrik beroperasi dalam kapasitas penuh, tenaga kerja lokal yang terlibat disebut dapat mencapai lebih dari 20.000 orang.
Menariknya, fasilitas ini tidak hanya digunakan untuk merakit mobil BYD. Sejumlah model yang dipasarkan di Indonesia juga diproduksi melalui fasilitas tersebut.
Beberapa di antaranya adalah BYD M6 DM dan BYD Atto 1. Selain itu, fasilitas produksi lokal ini juga digunakan untuk perakitan Denza D9, MPV premium yang berada di bawah naungan BYD Group.
Kehadiran fasilitas produksi tersebut sekaligus memperlihatkan langkah BYD dalam meningkatkan tingkat lokalisasi kendaraannya di Indonesia. Dengan produksi lokal, BYD tidak lagi hanya mengandalkan kendaraan impor untuk memenuhi kebutuhan pasar Tanah Air.
Kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun juga membuka ruang bagi BYD untuk meningkatkan volume produksi apabila permintaan pasar terus bertumbuh.
Langkah ini menjadi salah satu bagian penting dari strategi jangka panjang BYD di Indonesia, terlebih persaingan merek China di pasar otomotif Tanah Air semakin ramai.
Dengan investasi mencapai Rp11,6 triliun dan kapasitas produksi yang cukup besar, pabrik ini diharapkan tidak hanya menjadi basis produksi untuk pasar Indonesia, tetapi juga memperkuat ekosistem kendaraan elektrifikasi di tanah air. (AW)
