Menu



OtoDriver logoMember of :Logo PT. Bintang langit Multimedia

Copyright © 2026. Otodriver.com. All rights reserved.
BerandaBerita

Permintaan Mobil Listrik Meningkat Picu Harga Lithium Naik, Ini Dampaknya

Menambang berbagai logam yang dibutuhkan untuk membuat baterai litium juga membutuhkan sumber daya yang sangat besar.
Berita
Selasa, 7 Juni 2022 09:00 WIB
Penulis : Gemilang Isromi Nuar


Ikuti kami juga di whatsApp Channel Klik disini

Kendaraan listrik dinilai menjadi pilihan baru bagi masyarakat, sehingga membuat permintaan pasar mobil listrik meningkat. Harga lithium, logam langka yang digunakan dalam pembuatan baterai isi ulang mobil listrik juga mengalami kenaikan.

Menurut laporan baru-baru ini oleh perusahaan riset Inggris Argus Media, harga lithium telah melonjak lima kali lipat sejak April tahun lalu karena naiknya permintaan dari produsen mobil.

Perusahaan riset itu mengatakan tidak hanya lithium lonjakan harga juga terjadi pada jenis logam lain seperti kobalt dan nikel yang digunakan untuk baterai, menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari harga keseluruhan mobil listrik (EV).

Harga lithium, yang sering diperdagangkan dalam Yuan China, telah naik dari sekitar 89.000 Yuan (Rp192,8 juta) per ton pada April tahun lalu menjadi 486.000 yuan (Rp1,05 miliar) per ton. Harga kobalt meningkat 1,8 kali dan nikel naik 1,5 kali pada periode yang sama.

BACA JUGA

Baca Juga : Deretan Mobil Listrik yang Akan Digunakan untuk KTT G20, Ini Spesifikasinya

Serangan Rusia ke Ukraina juga telah menganggu pasokan lithium, pada gilirannya memungkinkan kenaikan harga EV yang membuat mobil menjadi semakin tidak terjangkau bagi konsumen dan berpotensi memperlambat peralihan dari mobil berbahan bakar fosil.

Dampak kenaikan itu, membuat Tesla menaikkan harga di seluruh jajaran produknya pada awal tahun untuk membebankan biaya bahan baku yang lebih tinggi kepada pelanggan.

Analis senior di SMBC Nikko Securities Toshihide Kinoshita memandang harga EV perlu dinaikkan sekitar 30 persen apabila harga logam langka dan bahan mentah lainnya yang digunakan dalam produksi EV terus naik. “Itu bisa menjadi faktor yang memperlambat popularitas EV,” katanya.

EV tidak mengeluarkan karbon dioksida saat dikendarai sehingga menarik bagi konsumen yang sadar lingkungan. Namun, EV lebih mahal daripada kendaraan hibrida dan hanya dapat menempuh jarak yang relatif pendek dengan sekali pengisian daya. Para produsen mobil juga sangat bergantung pada subsidi pemerintah untuk mempromosikan penjualan EV.

Namun dibalik itu semua terdapat bahaya yang mengintai pada baterai lithium, meskipun lithium terlihat ideal dalam mencapai energi berkelanjutan.

Saat ini baterai lithium merupakan jenis yang paling banyak dipakai oleh mobil listrik, permasalahannya terbesarnya adalah baterai lithium sangat susah didaur ulang.

Untuk mendaur ulang lithium, bagian-bagian baterai akan dihancurkan sampai berbentuk bubuk, kemudian bubuk itu akan dilelehkan (proses pyrometallurgy) atau dilarutkan dengan asam (proses hydrometallurgy).Cara pengolahannya juga harus dengan ketelitian yang tinggi, pasalnya lithium terbuat dari berbagai komponen berbeda yang bisa meledak bila tidak dibongkar dengan hati-hati. Bahkan ketika sudah berhasil dibongkar sekalipun, produk sisanya tidak akan mudah untuk dipakai kembali.

"Metode saat ini, yakni menghancurkan semuanya dan mencoba memurnikan campuran kompleks. Ini sangat mahal dan menghasilkan produk sisa yang tak ada nilainya," kata Andrew Abbot, ahli kimia fisik di Universitas Leicester dilansir BBC.

Baca JugaLimbah Baterai Mobil Listrik Ancaman Masa Depan Yang Perlu Diantipasi Dari Sekarang

Akibatnya, mendaur ulang baterai lithium akan lebih mahal daripada membuat baterai baru.

Selain daur ulang baterai litihum yang dianggap masalah, terdapat satu hal yang buruk untuk lingkungan. Menambang berbagai logam yang dibutuhkan untuk membuat baterai litium juga membutuhkan sumber daya yang sangat besar. Untuk menambang satu ton litium, butuh sekitar 500.000 galon (2.273.000 liter) air. Di Atacama Salt Flats yang terletak di Chili, penambangan litihum membuat berkurangnya vegetasi, suhu harian lebih panas, dan meningkatnya kondisi kering di daerah resapan air.

Meskipun mobil listrik dapat mengurangi emisi karbon CO2 dan mengurangi pemakaian energi fosil, tetapi baterai yang dipakai untuk membuatnya menjadi dampak besar bagi lingkungan.


Tags Terkait :
Lithium Baterai Mobil Mobil Listrik Lingkungan
Bagikan Ke :


Ikuti kami juga di whatsApp Channel Klik disini

Dapatkan update berita pilihan dan terbaru setiap hari dari otodriver.com. Mari bergabung di Channel Telegram OtoDriver, caranya klik link https://t.me/otodriver, kemudian join. Anda Harus install aplikasi telegram terlebih dahulu.


Artikel Terkait

Berita
Toyota dan CATL Bikin Baterai Di Karawang, Mulai Digunakan Pada Semester II 2026

Toyota CATL kolaborasi produksi baterai Karawang Semester II 2026. TMMIN investasi Rp 1,3 triliun untuk lokalisasi baterai hybrid seperti Innova Zenix HEV.

5 hari yang lalu


Berita
Evolusi Teknologi BYD dari Baterai ke Ekosistem Kendaraan Listrik Terintegrasi

BYD kuasai EV lewat teknologi Blade Battery BYD yang aman dan efisien, arsitektur Cell-to-Body, pengisian 1 MW, serta produksi presisi di Zhengzhou.

1 minggu yang lalu


Berita
Foton Luncurkan Double Cabin Bertenaga Listrik Murni

Foton perkenalkan double cabin 4x4 bertenaga listrik murni. Ini spesifikasinya.

2 minggu yang lalu


Berita
The Next P7, Mobil Dengan Teknologi Masa Depan Dari XPENG

XPENG memamerkan The Next P7 di IIMS 2026. Mobil ini menjadi pusat perhatian namun belum dijual di Indonesia. Simak keunggulannya.

2 bulan yang lalu


Berita
Suzuki e Vitara Resmi Melenggang Dengan Harga Rp 755 Juta

Suzuki akhirnya resmi memperkenalkan mobil listrik pertamanya untuk pasar Indonesia. Berikut spesifikasi dan harga e Vitara.

2 bulan yang lalu


First Drive
Mencoba Off-Road Cara Baru, Di Atas BAIC BJ41 REEV

BAIC BJ41 REEV sepertinya bakal memberikan pengalaman off-road baru yang membedakannya dengan mobil off-road konvensional

4 bulan yang lalu


Berita
Tes Konsumsi BBM Daihatsu Rocky Hybrid Tembus Di Atas 40 Km/Liter, Ini Faktanya

Konsumsi BBM Daihatsu Rocky Hybrid sangat irit dalam pengetesan.

7 bulan yang lalu


Berita
Kasus BYD Seal Terbakar, Ini Hasil Investigasi KNKT

Baterai 12V yang jadi penyebab keluarnya asap pada Seal di Jakarta Barat ternyata ini masalahnya.

9 bulan yang lalu


Terkini

Berita
Focal Premiere Store, Rujukan Car Audio Bagi Pemilik EV

Tersedia paket untuk pemula hingga kelas profesional.

24 menit yang lalu


Berita
iCar V27 REEV Setir Kanan Resmi Ditampilkan, Segera Menyapa Indonesia

Debut iCar V27 REEV setir kanan di Auto China 2026 tandai ekspansi global ke pasar right-hand drive, termasuk Indonesia dengan standar keselamatan bintang lima.

4 jam yang lalu


Berita
Chery QQ 2026 Hadir Sebagai Mobil Listrik Modern, Siap Tantang Geely EX 2 dan Aion UT Di Indonesia

Harga Chery QQ 2026 EV diperkirakan Rp130-170 juta. Mobil listrik modern dengan desain futuristik, jarak tempuh 420 km, dan fitur ADAS, segera masuk Indonesia.

1 hari yang lalu


Berita
Mengunjungi Markas Besar Xpeng, Sebuah Jendela Masa Depan

Kunjungan markas besar Xpeng Guangzhou ungkap ambisi pabrikan China di mobil EV canggih, eVTOL Aridge, dan robot humanoid Iron.

1 hari yang lalu


Berita
Mengenal Changan CS75 Plus HEV, Calon Penantang Chery Tiggo 8 CSH

Spesifikasi Changan CS75 Plus HEV: SUV hybrid medium dengan teknologi iDE-H, mesin 1.5L turbo 148 PS, motor listrik 241 PS, efisiensi termal 44,28%.

1 hari yang lalu