OTODRIVER - Mengemudikan kendaraan merupakan sebuah kegiatan yang berbahaya, tidak hanya bagi pengemudi tetapi juga bagi penumpang dan pemakai jalan lain.
Untuk itu saat mengemudi wajib terjaganya konsenterasi maksimal agar laju serta manuver kendaraan terjaga dalam kondisi yang paling aman.
Pekan ini (24/10/2026), ada kecelakaan yang melibatkan sebuah mobil listrik menabrak sebuah mobil dan motor di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, dan nampak pengemudinya tak bisa menghentikan laju kendaraannya setelah ketiga kendaraan saling berbenturan. Bahkan pengendara motor yang bisa disimak di akun Instagram dengan identitas dashcam_owners_indonesia terlindas mobil listrik bertransmisi otomatik itu.
Meski belum ada keterangan lanjutan mengapa pengemudi mobil listrik tersebut tidak segera menghentikan kendaraannya sesaat setelah menabrak bagian belakang motor.
Namun kejadian seorang pengemudi kendaraan bertransmisi otomatis tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya sesaat setelah terjadi saat terjadi senggolan atau benturan ternyata tak melulu karena ada persoalan teknis atas kendaraan.
Saat dihubungi langsung, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, langsung menyoroti soal pengemudi kendaraan bertransmisi otomatis yang tak bisa menghentikan laju kendaraan karena tidak berkonsenterasi sebelumnya. "Mungkin sambil main handphone, mungkin ngobrol berlebihan, atau bisa juga karena sebelumnya minum obat yang mengandung parasetamol," terkanya.
Menurut Sony, rendahnya konsenterasi saat mengemudi itu membuat gerak motorik anggota tubuh yang diperlukan dalam mengemudi tidak terhubung dengan baik dengan kerja otak. "Salah injak pedal, maunya rem malah digas, karena tidak fokus nyetirnya," tukasnya lagi.
Perihal dugaan pengemudi yang mengantuk juga tidak bisa dielakan dari kejadian di atas. Karena mengantuk memang menurunkan konsenterasi dalam mengemudi secara drastis.
Oleh karena itu kalau kantuk mulai menyerang saat mengemudi, meskipun di jalur dalam kota, masih menurut Sony, membuat sudut pandang dari mata mennyempit dan ini berbahaya karena fokus bisa hilang. "Karena keletihan yang sudah menjalar ke kerja otak membuat pengemudi tidak lagi bisa mengambil keputusan yang sehat," wantinya.
Tak lupa juga sangat disarankan olehnya, termasuk untuk pengendara motor, tetap memastikan berkendara sambal selalu jaga jarak untuk antisipasi menghindar jika diperlukan, "Sering pantau kaca spion terlebih kalau kendaraan di depan melambat."

Hanya ada dua pedal tapi bisa sangat berbahaya jika abai
Di sebuah mobil bertransmisi otomatis, hanya ada dua jenis pedal yaitu rem dan gas. Posisi pedal rem ada di sebelah kiri, sedangkan pedal gas ada di bagian kanan. Perbedaan jumlah ini ternyata masih membuat beberapa orang kurang nyaman atau merasa aneh ketika pertama memakai mobil otomatis.
Dikutip dari laman Suzukidutacendana, pengemudi mobil transmisi otomatis wajib jangan salah menginjak pedal. Sebelum mengemudi, selalu pastikan paham betul posisi pedal rem dan gas meskipun mungkin dalam kondisi terburu-buru.
Ketika hendak menginjak pedal, baik rem maupun gas, maka disarankan memakai kaki sebelah kanan, karena kaki sebelah kanan biasanya akan lebih mudah untuk menyesuaikan tekanan yang diperlukan dalam menginjak pedal. Jangan menginjak pedal gas dan rem terlalu dalam kondisi berkendara normal, agar kendali rem ataupun gas dapat dilakukan dengan baik sesuai kebutuhan.
Ketika kaki kanan sedang menginjak pedal rem atau gas, maka posisikan kaki kiri di bagian foot rest. Bagian itu terletak di sebelah kiri pedal rem. Posisikan kaki dalam kondisi rileks, tapi tetap harus siaga jika mungkin saja nanti diperlukan.
Posisi duduk juga penting untuk dikondisikan dengan baik, pastikan Anda bisa duduk dengan nyaman. Kaki harus bisa menjangkau pedal dengan baik, sedangkan tangan harus bisa memegang kemudi dengan nyaman. Jangan lupa, hindari menginjak pedal rem dan gas bersamaan karena hal tersebut dapat merusak berbagai sistem di mobil. (EW)











