BUS-TRUCK – Toyota Hilux, Ford Ranger, Mitsubishi Triton, hingga Isuzu D-Max menjadi nama-nama pikap double cabin yang populer di Indonesia saat ini. Kabinnya bisa membawa satu keluarga, sementara bak belakangnya tetap siap mengangkut barang.
Tetapi, siapa sebenarnya yang pertama membuat pikap dengan konsep seperti ini?
Jawabannya tidak sesederhana menyebut satu merek. Sejumlah pabrikan sudah mengembangkan pikap berkabin dua baris sejak era 1950-an.
Salah satu yang paling awal adalah Toyota Stout. Generasi pertamanya diperkenalkan pada 1954, dan selain pikap biasa, tersedia varian double cab berkapasitas enam penumpang, meski masih berpintu dua. Stout kemudian menjadi pendahulu Hilux, yang meluncur pada 1968.

Namun, untuk kategori crew cab produksi pabrik di Amerika Serikat, International Harvester lebih sering disebut sebagai pelopornya. Pada 1957, mereka memperkenalkan Travelette, pikap berkabin tiga pintu dengan bangku belakang penuh yang mampu membawa hingga enam orang. Konsep ini memungkinkan satu kendaraan mengangkut kru sekaligus peralatan kerja.
Empat tahun kemudian, pada 1961, Travelette mendapat empat pintu. Bentuknya pun semakin mendekati double cabin yang kita kenal sekarang.

Pabrikan lain mulai mengikuti. Dodge menghadirkan crew cab lewat D200 pada 1963, Ford lewat F-250 pada 1965, dan Chevrolet baru menyusul pada 1973.
Menariknya, pikap berkabin ganda pada masa awal lebih banyak dipakai untuk keperluan kerja. Barulah belakangan, terutama pada 1990-an, penjualan crew cab melonjak ketika pikap makin diminati sebagai kendaraan serba guna. Kabin makin nyaman, perlengkapan makin lengkap, dan lahirlah formula yang kita kenal sekarang: kabin dua baris dengan bak terbuka di belakang.

Jadi, siapa pembuat double cabin pertama? Jawabannya tergantung definisinya. Toyota Stout menjadi salah satu pionir paling awal lewat varian enam penumpangnya pada 1954, sementara International Harvester Travelette dianggap sebagai pikap crew cab produksi pabrik pertama di Amerika Serikat. (SS)












