BUS-TRUCK - Seiring upaya elektrifikasi di kendaraan penumpang, segmen kendaraan komersial juga tidak lepas bergeser, sehingga mengurangi konsumsi BBM fosil.
Sebagaimana yang disuarakan oleh pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Muiz Thohir di sela Rapimnas Organda pekan ini di Jakarta (30/6/2026) agar organisasi yang membawahi para operator angkutan barang dan penumpang juga bantu mewujudkan transformasi energy nasional.
Dijabarkan lagi oleh Muiz, seperti dikutip dari Antara, agar pelaku usaha angkutan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi transportasi.
Karena menurutnya transformasi angkutan umum terus berkembang dari kendaraan konvensional menuju teknologi yang lebih modern, termasuk penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari masa depan transportasi.
Masih menurut Muiz, mengatakan elektrifikasi angkutan umum menjadi salah satu langkah yang terus didorong pemerintah untuk mengurangi emisi sekaligus mewujudkan sistem transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Walaupun ia mengakui bahwa pihak Kemenhub masih menghadapi tantangan dalam menetapkan target konversi angkutan umum berbahan bakar diesel menjadi kendaraan listrik hingga 2030.
Target tahun itu merupakan upaya untuk lebih memaksimalkan konversi angkutan umum berbasis diesel menjadi angkutan berbasis listrik sampai tahun 2030.
Paket komponen untuk konversi listrik kendaraan komersial masih sangat tinggi. (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)
Operator juga perlu menyiapkan anggaran tambahan untuk stok suku cadang serta peralatan baru ditambah teknisi khusus untuk memelihara armada tenaga listrik. (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)
Butuh insentif dari pihak pemerintah untuk menarik minat operator
Pihak Kemenhub juga sudah melakukan studi banding ke Thailand bersama pihak Damri guna mempelajari transformasi angkutan umum dari kendaraan bermesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) menjadi kendaraan listrik.
Menurut Muiz, Thailand telah menunjukkan kemajuan dalam penerapan elektrifikasi angkutan umum, terutama dari sisi jumlah armada yang telah beralih menggunakan tenaga listrik.
Pengalaman Thailand, lanjut dia, diharapkan dapat menjadi acuan bagi Indonesia dalam mempercepat transformasi menuju sistem transportasi yang lebih bersih, modern, dan berdaya saing.
Meski demikian, ia menilai percepatan elektrifikasi angkutan umum memerlukan dukungan berbagai insentif dari pemerintah agar proses konversi armada berjalan lebih cepat dan menarik minat pelaku usaha transportasi.
Baca juga: Insentif Mobil Listrik Dinilai Perlu Menyasar Bus, Truk, dan Logistik
Baca juga: Bus Listrik Lokal Sudah Semakin Sempurna
Kendaraan yang bisa jadi angkutan kota tenaga listrik sudah banyak tersedia, tapi soal harga beli yang tinggi masih jadi kendala bagi operator (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)
Berdasarkan catatan Bus-Truck.id, saat bertemu dengan Sekjen DPP Organda, Kurnia Lesani Adnan, di Ungaran, Jawa Tengah beberapa waktu lalu (15/7/2025), pernah menyebutkan hal serupa.
Waktu itu dijabarkannya, bahwa meskipun suatu saat pengadaan bus listrik dengan melibatan karoseri lokal akan lebih kompetitif harganya, namun insentif dalam hal pembelian sasis bus hingga pembangunan bodi bus perlu dipikirkan oleh pihak pemerintah.
Menurut pria yang akrab dipanggil Sani itu, transformasi armada angkutan bermesin konvensional tidak bisa serta-merta dilakukan tanpa periode transisi.
Namun masalahnya, pemahaman soal masa peralihan itu jagna dipersepsikan sekadar melakukan penggantian spesifikasi secara bertahap semata.
Soal kalkulasi bisnis dalam menghadapi harga sasis bus listrik yang masih terbilang tinggi ditambah kesiapan jaringan pengisian daya di lapangan dianggap petinggi PO SAN itu justru sebagai potensi hambatan elektrifikasi kendaraan umum.
Ia memungkaskan dengan satu usulan sederhana yaitu ada peluang untuk memperpanjang masa angsuran kendaraan angkutan tenaga listrik yang dibeli secara kredit agar para operator lebih punya kemampuan dalam pengadaan armada dan perawatan armada angkutan listrik itu. (EW)
Jumlah charging unit untuk kendaraan komersial di jalur umum masih sangat minim di Indonesia. (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)

Erie W. Adji
reporter
Jurnalis otomotif yang sudah malang melintang sejak 2000. Berpengalaman menulis berita seputar roda empat dari mobil pen...










