BUS-TRUCK – Agresivitas BYD tidak hanya di segmen kendaraan pribadi, karena di segmen angkutan massal sudah dirilis juga model sasis bus yang sepaket dengan baterai Blade dengan nama e-Bus Platform 3.0 dengan target beroperasi secara massal tahun ini, khususnya untuk area Eropa.
Berbekal pusat perakitan yang ada di wilayah Budapest, Hungaria, rencana tadi berbuah munculnya 82 unit pertama yang siap bekerja di sejumlah kota di Benua Biru sebagai bus kota.
Hal tersebut seperti melanjutkan sukses tahun 2025, ada 5.000 unit bus BYD yang dipakai sebagai bus kota di berbagai kota Eropa.
Tidak hanya untuk Eropa, BYD juga sudah mendirikan pusat suku cadang dan perawatan di Australia. Untuk kebutuhan dalam negera maupun regional.
Upaya masif itu sudah bisa dilihat di negara tetangga, Singapura, pihak ‘Dishub’ di sana yaitu Land Transport Authority memberikan kontrak untuk pengadaan 660 unit bus listrik ke pihak BYD.
Kontrak tersebut menyangkut bus berspesifikasi sing deck dan double deck.
Baca juga: Mengapa Belum Ada Medium Bus Listrik Di Jalur Transjakarta? Ini Jawabannya
Baca juga: Bus Asal Cina Makin Tak Terbendung Mendunia
Jika banyak otoritas angkutan massal banyak negera memberikan kepercayaan pada produk bus listrik BYD bukan tanpa alasan.
Karena dari berbagai sumber menyebutkan kalau bus BYD memiliki struktur baterai yang sangat ideal dengan desain spesifikasi sasis.
Kesesuaian itu tidak banyak dilakukan oleh produsen bus lain, jika tak bisa disebut belum dilakukan.
Bisa dilihat dari evolusi pemakaian baterai dari CTM (baterai retrofit) menjadi CTP (cell-to-pack) dan kemudian ditemukan spesifikasi CTC (cell-to chassis) seperti yang terpakai saat ini.
Dibandingkan kedua jenis baterai sebelumnya, CTC merupakan tahap desain baterai dalam satu proses yang sama dengan desain sasis bus.
Keduanya merupakan komponen yang menyatu, bukan baterai yang dudukannya sasis.
Inovasi CTC membuat dimensi serta kapasitas baterai tidak mengganggu dimensi ataupun ruang yang ada di sasis dan juga komponen bodi.
Bahkan teknologi ini terbukti dapat menambah volume bagasi sebesar tujuh meter kubik.
Posisi baterai yang sejajar dek bodi tadi juga terbukti dapat mengurangi 370 komponen lain.
Juga dapat mengurangi konsumsi energi listrik sampai 18 persen, itu setara penambahan jarak tempuh 50-80 kilometer jika terjadi di udara dingin.
Dalam hal perawatan, baterai berdesain CTC memang akan lebih rumit karena instalasinya sepaket dengan sasis.
Namun pengembangan baterai yang mengarah ke solid state nantinya akan semakin mudah dalam hal kontrol kondisi sekaligus prediksi waktu pemeliharaan baterai. (EW)
Desain baterai CTC membuat struktur bus semakin ringkas (Foto : BYD)










