OTODRIVER – Proyek pengadaan mobil untuk PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) untuk 105.000 unit terus menjadi sorotan.
Pasalnya, menurut kabar yang beredar proyek pengadaan ini jatuh ke tangan pabrikan otomotif asal India, yakni Mahindra dan Tata Motors.
Mengenai hal tersebut, Toyota mengaku sempat digadang-gadang bakal menjadi mitra utama Agrinas.
Jap Ernando Demily selaku Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) menjelaskan bahwa sempat terjadi diskusi terbuka namun pada akhirnya tidak terjadi ketidaksepakatan.

"Memang benar kami dari Toyota sempat diajak berdiskusi dengan rekan-rekan dari Agrinas mengenai rencana kebutuhan pengadaan untuk pikap dan light truck, sayangnya tidak terjadi kesepakatan," jelas Ernando saat momen buka bersama Toyota bersama media di Kawasan Jakarta Pusat, Jumat (6/3).
Pria yang akrab disapa Ernando ini menjelaskan bahwa alasan utama tidak terjadinya kesepakatan adalah harga dan jenis kendaraan.
"Kalau dilihat di harga kami, misalnya Hilux double cabin, sekitar Rp456 juta. Tapi di dalam harga on the road itu ada banyak komponen, mulai dari harga kendaraan, pajak barang mewah, bea balik nama, dan lain sebagainya,” tambahnya.
Senada dengan Ernando, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, menyoroti aspek kesiapan produksi.
Meski angka 105.000 unit adalah volume yang sangat besar secara ekonomi, proses perakitan lokal (Completely Knocked Down/CKD) membutuhkan persiapan matang.
"Kalau kita bicara CKD atau produksi lokal itu perlu waktu, perlu volume dan skala ekonomi yang mencukupi. Memang 105 ribu unit itu angka yang besar, tetapi kita juga harus melihat timing-nya," jelas Nandi.
Dari 105.000 unit tersebut, PT Agrinas Pangan Nusantara memiliki rincian 70.000 unit dari Tata Motors yang meliputi 35.000 pikap Tata Yodha dan 35.000 truk ringan Tata Ultra T.7 serta 35.000 unit dari Mahindra yang terdiri dari 35.000 unit Scorpio Pikap. (AW)










