Krisis Energi Sebabkan Charging Biaya EV Jadi Horor

Krisis Energi Sebabkan Charging Biaya EV Jadi Horor

Kendaraan EV diperkirakan akan mengubah dominasi internal combustion engine (ICE) di jalanan dalam waktu beberapa dekade ke depan. Dengan demikian, akan mengurangi ketergantungan akan penggunaan minyak bumi secara signifikan, setidaknya untuk keperluan konsumsi kendaraan.

Dengan demikian tidak ada lagi krisis minyak dunia dan memberikan kualitas udara yang lebih baik di daerah perkotaan.

Namun demikian bukan berarti EV bakalan lolos dari krisis energi. Penderitaan pengguna EV bukan karena kelangkaan bahan bakar minyak, namun karena kelangkaan sumber daya listrik.

Setidaknya hal ini terjadi pada minggu lalu di Texas AS dan masih terus berlanjut hingga saat ini. Carscoops mewartakan bahwa lonjakan permintaan listik yang cukup tinggi dan meredupnya sumber-sumber pembangkit listrik lantaran badai musim dingin, menjadikan harga listrik melonjak tajam.

Dampaknya harga grosir listrik naik menjadi USD $9.000 (Rp 126.821.250 dengan kurs per USD di angka Rp 14.091.) untuk per megawatt hour. Artinya ada peningkatan 17.900% dari rata-rata yang biasa tercatat USD $50  (Rp 704.562) per megawatt hour. Sebagai catatan, tarif dasar di Texas cukup fluktuatif tergantung dengan kebutuhan pasar. Tentu tidak seperti di Indonesia yang berlaku flat dalam kondisi apapun.

Kenaikan ini tentunya berdampak juga dengan operasional mobil listrik. Dengan hitungan biaya yang ada saat ini sebuah mobil listrik membutuhkan biaya charging $9 (Rp 126.821) per kilowatt hour (kWh).

Sebagai contoh untuk mengisi penuh sebuah Nissan Leaf dengan battery berkekuatan 40 kWh, pemiliknya menghabiskan biaya $ 360 (Rp 5.072.850). Atau sebuah Hyundai Kona Electric dengan baterai 39,2 kWh mampu menghisap kantong pemiliknya sebesar Rp 5.523.770.

Lebih horor lagi jika harus mengisi Audi e-tron atau Tesla dengan kemasan baterai 100 kWh yang akan jatuh di angka Rp 14 jutaan.

Apa yang terjadi di Texas ini tentu tidak bersifat umum dan terjadi pada kasus tertentu saja.

Dalam hal ini EV bakalan berbagi sumber daya dengan kebutuhan manusia modern yang semakin tergantung dengan listrik.

Namun setidaknya dari kondisi tersebut terselip satu pesan bahwa kendaraan EV tidak bisa lolos dari krisis energi.

 

 

Baca Juga

     
    Rekomendasi

    Bus-truck.id

      Otorider.com