OTODRIVER - Konflik yang tengah membara di kawasan Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran di bidang industri otomotif.
Salah yang memiliki kepentingan besar adalalah Toyota Indonesia yang banyak memilliki kegiatan eksport ke kawasan tersebut.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam angkat bicara terkait dengan kondisi ini.
“Untuk saat ini, Kami terus mencermati kemungkinan dampak akibat perang di Timur Tengah tersebut, mulai dari kenaikan harga energi hingga gangguan jalur perdagangan internasional,” terangnya saat dihubungi Otodriver beberapa waktu lalu.

Lebih jauh lagi, Bob mengatakan bahwa ada hal yang perlu diwaspadai dan ia pun mengkategorikan dampak perang dalam tiga term.
“Dampak short term, biasanya jalur perdagangan dan logistik internasional dapat terdampak, mulai dari penyesuaian rute pelayaran hingga meningkatnya risiko distribusi,” jelasnya.
Diterangkan bahwa kondisi ini bisa berpengaruh terhadap aktivitas ekspor, yang berpotensi mengalami keterlambatan dibandingkan kondisi normal.
Kemudian dampak mid-term yang berpotensi muncul apabila konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia.
“Kenaikan minyak dunia akan berpengaruh pada negara pengimpor. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan daya beli sekaligus mempengaruhi permintaan kendaraan di pasar tujuan ekspor,” sambungnya.
Dampak secara long term akan terjadi jika konflik semakin meluas dan perpengaruh pada pada supply chain global terutama critical material yang sangat dibutuhkan oleh industri semikonduktor yang saat ini erat hubungannya dengan otomotif.
“Sehingga, apabila hal tersebut terjadi, potensi gangguan tidak hanya terjadi pada aktivitas perdagangan di tingkat regional. Konflik yang semakin luas juga berisiko mengganggu rantai pasok global,” tambahnya.
“Situasi tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap berbagai sektor manufaktur dunia yang sangat bergantung pada komponen elektronik dan teknologi semikonduktor,” tutupnya. (SS)










