OTODRIVER – Toyota Gazoo Racing belum lama ini memperkenalkan Camry 7 silinder. Mobil yang bakal berlaga di ajang balap ketahanan 24 jam Super Taikyu ini punya dua mesin, 3 silinder di depan dan 4 silinder di belakang.
Ini merupakan adu ilmu mekanik yang sesungguhnya, di mana untuk menggoperasikan dua mesin dalam satu mobil bukan suatu yang simpel dan mudah.
Namun tahukan Anda bahwa konsep dua mesin Toyota itu bukan sesuatu yang baru. Bahkan sudah ada sejak 1907, walau punya beragam peruntukan dan kondisinya cukup berbeda.
Konsep Two Engine Masa Awal
Howard O. Carter membangun mobil dua mesin tahun 1907. Tujuannya untuk mengatasi frustrasi utama pada masa awal otomotif di mana durabilitas mesin masih jelek dan banyak mengalami kerusakan teknis.
Mengutip mac motorcity.com, menyebut alasan konsep tersebut. Dengan memasang dua mesin empat silinder independen dalam satu mobil, Carter menciptakan sistem "pengaman". Jika satu mesin rusak, maka cukup beralih ke mesin lainnya dan berkendara pulang.
Selanjutnya pada 1933, hadir Tempo menggulirkan ide dengan menempatkan dua mesin, masing-masing di bagian depan dan belakang. Pabrikan Jerman ini kemudian memproduksi masal pada 1936 dan mendapatkan tugas sebagai kendaraan militer.
Konsepnya lain lagi, Tempo menyodorkan konsep ini untuk menciptakan mobil berpenggerak empat roda (All Wheel Drive) dengan mobilitas off-road yang luar biasa tanpa memerlukan poros penggerak tengah yang kompleks atau diferensial yang berat.

Kemudian pada 1958, Citroen memperkenalkan 2CV Sahara dengan dua mesin di depan dan belakang. Kedua mesin kecilnya dapat beroperasi secara individual atau gabungan, sehingga pengemudi dapat menggunakan penggerak roda depan, penggerak roda belakang, atau penggerak semua roda. Mobil ini cukup mumpuni melahap medan off-road namun hanya diproduksi 700-an unit saja.
Konsep 2 engine ini pun menjadi ide untuk menjadi penambah performa. Kembali ke 1935 saat Scuderia Ferrari mengelola tim balap Alfa Romeo. Enzo Ferrari dan seorang insinyur Ferrari, Luigi Bazzi mencetuskan ide dua mesin untuk melawan dominasi Mercedes-Benz dan Auto Union (Audi).
Alfa Romeo Bimotore 16C hadir sebagai monster dengan dua mesin 8 silinder inline dengan total kapasitas 6.300cc dan mampu meletup daya 540 hp.
Sayang bobot yang berat dan keterbatasan teknologi ban saat itu menjadikan mobil ini tidak lincah dan terlalu liar untuk dikendalikan. Bimotore 16 C tidak pernah mencatatkan kesuksesan di dunia balap.

Dual Engine Paling Brutal
Pada 1966, General Motors (GM) mulai memproduksi mobil berpenggerak roda depan dengan layout mesin longituginal alias mesin memanjang ke belakang.
Mengutip Carbuzz.com, diinformasikan kepala insinyur Oldsmobile (salah divisi brand GM) ingin menguji kekuatan transmisi AT 3 speed yang digerakkan rantai pada struktur transaxle pada unit Toronado.
Dengan bantuan Hurts sebuah produsen komponen high performance, mereka menambahkan supercharger pada mesin V8 7.0 liter dan membenamkan satu mesin yang sama di bagian belakang.

Hasil karya yang dikenal sebagai Hurst Hairy Olds ini mampu menghasilkan daya 2.400 hp dan sangat brutal memutar roda depan dan belakang muscle car ini. Mobil ini lebih banyak membakar ban karetnya karena burnout dan asapnya menutupi pandangan. Akhirnya salah satu dari dua mobil tersebut terlibat kecelakaan hebat saat pengetesan, pembalap testnya menolak melanjutkan eksperimen dan akhirnya proyek tersebut berakhir.
Kiprah Di Modern Motorsport
VW Scicocco Bi-Motor
Twin engine masih menebar pesonanya. Pada 1983, Volkswagen memperkenalkan Scirocco Bi-Motor. Tujuannnya untuk menghadang Audi Quattro yang tengah meraja di ajang WRC. Prototipe Scirocco hatchback, yang ditenagai oleh dua mesin. Scirocco dilengkapi dengan dua mesin empat silinder 1,8 liter, dengan total daya 360 hp.
Mobil ini mampu mencapai kecepatan 60 mph dalam 4,1 detik. Sistem penggerak yang kompleks, dikendalikan oleh sistem elektronik, memungkinkan pengemudi untuk memilih antara penggerak roda depan, penggerak roda belakang, atau penggerak semua roda.
Scirocco Bi-Motor tidak pernah masuk ke WRC, atau ke jalur produksi. Namun upaya ini dilanjutkan VW pada tahun 1987, ketika mereka menciptakan monster bermesin ganda lainnya. VW Golf Pike Peak Special.

Lancia Trevia Volumex Bimotore
Kemudian pada 1984, Lancia yang cukup bernafsu menjegal kejayaan Quattro bereksperimen dengan Trevia. Dua mesin 2.0 liter supercharged, salah satunya dipasang di area kabin penumpang. Mobil ini cukup buas, tapi mesin tambahannya sering kali kepanasan dan masalah distrubusi berat yang tidak seimbang menyebabkan Lancia menanggalkan proyek tersebut.

VW Golf Pike Peak Special
Sekarang giliran Golf Pike Peak Special. Setelah membatalkan proyek Scirocco Bi-Motor, VW melanjutkan membangun ambisi lainnya di ajang balap tanjakan Pike Peak di Colorado.
Mobil ini dibangun menggunakan rangka ruang (space-frame) ini ditenagai oleh dua mesin GTi 1.8 liter turbocharged, masing-masing menghasilkan 340 hp. Ia juga memiliki dua gearbox terpisah sehingga, seperti Scirocco, dapat dikendarai dengan penggerak roda belakang, penggerak roda depan, atau penggerak semua roda.
Jochi Klein selaku driver, Golf awalnya memimpin di tanjakan berkerikil, memimpin catatan waktu di titik tengah. Namun, kerusakan suspensi membuat VW terhenti beberapa ratus meter sebelum garis finis.

Suzuki Cultus Pikes Peak Special
Suzuki menyentak dunia saat mengikuti ajang balap tanjakan Pikes Peak di 1993. Mereka menciptakan sebuah mobil yang hanya sedikit menyerupai hatchback Cultus. Mobil balap tubular ini hadir dengan posisi mengemudi di tengah, dua mesin turbo 1.6 liter dengan daya 800 hp.
Legenda reli Jepang, Nobuhiro 'Monster' Tajima menjadi drivernya dan berhasil memecahkan rekor waktu Pikes Peak. Mobil itu memenangkan kelasnya dan catatan waktunya jadi yang terkencang di semua kelas yang diadakan.
Pada kesempatan selanjutnya mobil ini berubah kulit menjadi Escudo pada 1996 dan mampu mempertahankan dominasi ajang balap tanjakan Pikes Peak itu. (SS)












