OTODRIVER - Data dari Kementerian Pekerjaan Umum mencatat ada 3,25 juta unit kendaraan yang keluar dari wilayah Jakarta saat periode mudik Lebaran 2026 yag lalu. Besaran itu meningkat 2,3 persen dibandingkan masa lebaran 2025.
Dalam mengendalikan arus mudik dan arus balik digalang juga kolaborasi antar instansi nasional seperti Kepolisian, Kementerian Perhubungan, Jasa Marga, maupun operator jalan tol di seluruh Indonesia.
Semuanya digalang dalam Operasi Ketupat 2026, dimana salah satu faktor penopang pelaksanaannya menggunakan metodologi riset akademik bernama Triangulasi.
Sebagaimana diterangkan oleh Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Pemerintahan STIK Lemdiklat Polri, Prof. Dr. Albertus Wahyurudhanto M.Si., dalam paparannya di sesi Audiensi Evaluasi Operasi Ketupat 2026 di Jakarta pekan ini (2/4).
Riset tersebut, menurut Albertus seperti dikutip dari laman Korlantas Polri, menggabungkan tiga sumber data; survei persepsi masyarakat terhadap 3.200 responden dari 8 Polda; data operasional dari posko terkait pergerakan kendaraan dan kecelakaan lalu lintas; serta metode Delphi yang melibatkan para ahli untuk menganalisis temuan di lapangan.
Metode Delphi dimanfaatkan untuk membuat prediksi berbekal data yang terbatas yang akan dipakai untuk membuat keputusan factual yang terbaik di lapangan.
Pemanfaatan sudut pandang akademik itu juga didukung intensify pemantuan kondisi di lapangan secara real-time serta penerapan predictive traffic policing berbasis data.
Albertus meneragkan lagi, metode baru untuk tahun ini berbeda dibandingkan pola kebijakan tahun lalu yang berbasikan evaluasi pada aspek pelayanan.
Strategi baru tersebut mampu membangun pemahaman di masyarakat bahwa rekayasa lalu lintas bukan sekadar kewajiban polisi, melainkan kebutuhan publik demi keselamatan dan kelancaran perjalanan masyarakat.


Menekan angka kecelakaan sampai 30 persen
Dalam sesi diskusi yang sama, pengamat perlindungan konsumen dan kebijakan public, Tulus Abadi, juga menilai pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 bisa menekan angka kecelakaan hingga 30 persen serta mencatat tingkat kepuasan masyarakat mencapai 94 persen.
Keputusan pihak Korlantas memanfaatkan pola kebijakan baru dianggap Tulus sangat membantu untuk mengkontruksikan arus mudik berjalan lancar dan selamat.
Ia juga memberi catatan berdasarkan survei dimana 94 persen masyarakat puas dengan pelaksanaan Operasi Ketupat jadi pembuktian soal efektivitas kinerja semua pihak.
Catatan lain menurut Tulus adalah efektivitas rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah atau one way yang dinilai sangat membantu kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran.
Bahkan bisa berkontribusi menekan tingkat kecelakaan sampai 30 persen.
Dipungkaskannya, semoga pola penanganan arus mudik dan arus balik tahun ini menjadi kebijakan permanen, salah satunya dengan mendirikan rambu-rambu tambahan di jalan tol yang berkaitan dengan diskresi pemangku kepentingan dalam manajemen lalu lintas massal tahunan itu. (EW)










