OTODRIVER - BYD (Built Your Dream) memang bukan produsen pertama yang memperkenalkan mobil hibrida bermahzab plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) di Indonesia. Namun pabrikan yang bermarkas besar di Shenzhen, Guangdong, China ini merupakan pencetus PHEV pertama di dunia.
Pada Desember 2008, BYD meluncurkan F3DM sebagai model PHEV yang diproduksi massal pertama di muka bumi ini. Tampil dalam wujud sedan berukuran kompak, F3DM bisa dikatakan sebagai ‘biang’ dari semua PHEV di dunia.
Huruf DM pada F3DM ini merujuk pada singkatan Dual-Mode yang yang dapat diartikan sebagai PHEV dalam ‘bahasa’ BYD. Dan semua produk hibrida BYD adalah PHEV dan belum ada produk HEV (Hybrid Electric Vehicle).
Melalui singkatan DM inilah yang sampai saat ini dibawa sebagai bendera identitas BYD. Dari sinilah pula nama DM-i yang kini diperkenalkan ke Indonesia yang akan diwujudkan melalui M6 DM-i. Saat ini DM milik BYD sudah memasuki generasi ke 5.
Lima Generasi Teknologi Hybrid BYD
BYD memasuki orbit persaingan mobil hybrid tidak dengan mengikuti trend teknologi yang sudah ada sebelumnya. Mereka tidak masuk dengan memanggul teknologi Hybrid Electric Vehicle (HEV) namun langsung menyodorkan hal yang baru yakni PHEV, alias mobil hybrid yang bisa disetrum.
Dalam kacamata BYD, selain menjadi pionir, teknologi PHEV lebih dapat menyuguhkan pengalaman dengan filosofi electric first. PHEV menawarkan fleksibilitas absolut yang dapat dikendarai sepenuhnya sebagai kendaraan listrik untuk mobilitas sehari-hari.
- Generasi I, Sang Pionir
F3DM menjadi model pertama PHEV dunia. Mobil ini mampu berjalan 60 kilometer dalam mode EV dan 480 kilometer dengan sumber kombinasi mesin dan motor listrik.
Dengan filosofi electric first mobil ini pada umumnya akan menggunakan sumber baterainya terlebih dulu baru kemudian menghidupkan mesinnya yang lebih berfokus pada untuk charging. Walau mesin bakar tetap memberi kontribusi untuk memberi tenaga tambahan saat dibutuhkan.
F3DM secara pemasaran tidak bisa dibilang gemilang. Mobil dengan desain muka seperti seperti Toyota Corolla Altis dan bagian belakang laksana Honda Civic. Penjualan komulatifnya hanya menyentuh angka 3.284 unit saja sampai akhir masa produksinya di 2013.
- Generasi II & III
Generasi II (2013) dan Generasi III (2018), BYD mengambil bidikan lain dengan berfokus pada performa. Targetnya adalah pada peningkatan perfoma yang lebih masif semisal 0-100 km/jam yang mampu ditempuh kurang dalam 5 detik. Pada periode ini BYD mulai memperkenalkan peningkatan performa melalui motor ganda.
Model yang muncul pada periode ini seperti BYD Qin, Tang dan Song DM.
- Generasi IV
Generasi IV mulai debutnya di 2021. Pada saat itu BYD membagi teknologi hybridnya menjadi dua cabang yakni DM-i yang memprioritaskan efisiensi tinggi dan DM-p yang lebih berfokus pada performa.
Pada saat itulah terjadi lonjakan penjualan besar-besaran di seluruh Tiongkok.
- Generasi V
Pada DM teknologi generasi V (2024-sekarang), BYD berfokus sebagai pemecah rekor efisiensi thermal yang belum pernah ada sebelumnya yakni sebesar 46,06 %.
Dengan sistem DM generasi terbaru, kendaraan mampu mencatat konsumsi bahan bakar hingga 65 kilometer per liter dengan total jarak tempuh lebih dari 1.800 kilometer.
Dalam pengujian internal sejauh 150 kilometer, biaya energi yang dibutuhkan bahkan tercatat setara sekitar Rp300 per kilometer.
Pengujian internal kendaraan DM 5.0 seperti Qin L DM-i mampu menjangkau hingga 2.000 km untuk sekali pengisian BBM dan pengecasan daya. (SS)











