OTODRIVER – Perusahaan otobus (PO) Juragan 99 Trans menilai bus listrik masih menghadapi sejumlah tantangan untuk dioperasikan pada layanan antarkota, khususnya di jalur Trans Jawa. Salah satu kendala utamanya adalah jarak tempuh yang dinilai belum memenuhi kebutuhan operasional perusahaan.
Direktur Utama Juragan 99 Trans, Suluk Waseso Segoro, mengatakan pihaknya memiliki ketertarikan terhadap teknologi bus listrik. Namun, kemampuan jarak tempuh dan waktu pengisian daya masih menjadi pertimbangan sebelum mengadopsinya untuk layanan antarkota.
“Secara umum kita minat dengan bus listrik. Namun saat ini, kami merasa bus listrik masih challenging, terutama dari soal jarak tempuh hingga waktu pengecasan,” ujar Suluk.
Menurutnya, kebutuhan jarak tempuh bus untuk rute yang dijalankan Juragan 99 Trans saat ini mencapai minimal 900 km. Karena itu, bus listrik dengan kemampuan jelajah di bawah angka tersebut dinilai masih cukup menantang untuk dioperasikan di jalur Trans Jawa.
“Untuk rute yang kita ada saat ini, butuhnya minimum 900 km. Jadi sebelum bisa sampai dengan 900 km, rasanya masih challenging untuk menjalankan di Trans Jawa,” jelasnya.
Suluk menambahkan, kebutuhan tersebut berbeda dengan operasional bus dalam kota yang umumnya menempuh jarak lebih pendek. Menurutnya, bus listrik sudah cukup mumpuni untuk layanan perkotaan dengan jarak tempuh harian sekitar 200 km.
Ia juga menyoroti kemungkinan bus harus melakukan pengisian daya beberapa kali dalam satu perjalanan. Kondisi tersebut berpotensi menambah waktu operasional dan menjadi tantangan bagi layanan bus antarkota yang membutuhkan efisiensi waktu.
Selain jarak tempuh, kapasitas bagasi juga menjadi perhatian. Menurut Suluk, penempatan baterai pada sasis bus listrik berpotensi mengurangi ruang yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang penumpang.
Meski begitu, ia menilai persoalan bagasi masih bisa disiasati melalui pengaturan konfigurasi tempat duduk. Sementara itu, kapasitas baterai dan kemampuan jarak tempuh masih menjadi tantangan utama yang perlu diselesaikan.
Suluk bahkan menyebut teknologi battery swapping atau penukaran baterai berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mendukung operasional bus listrik.
“Pada saat kebutuhannya di sini, secara jarak tempuh tercukupi, saya yakin bakal banyak yang minat,” katanya. (IP)
