OTODRIVER - Berdasarkan laporan bertajuk Global Data Prices Database lansiran Bank Dunia, tercatat harga BBM jenis RON 92 di Indonesia pada bulan Januari 2015 sebesar Rp8.750 per liter.
Itupun setelah dilakukan penurunan harga oleh pihak Pertamina dari harga sebelumnya yang Rp9.950.
Penurunan itu akibat harga minyak dunia yang juga melorot.
Harga BBM RON 92 di Indonesia mulai menyentuh dua digit terjadi sekitar medio Oktober 2021 dimana konsumen mulai melihat angka Rp12.000 per liter.
Per Mei 2026 harga BBM RON 92 yang dirilis pihak Pertamina untuk wilayah Jakarta adalah Rp12.300. Dengan asumsi bebas maka kenaikan harganya sudah menyentuh 40,57 persen.
Jika menilik soal di atas maka potensi naiknya harga BBM jelas di luar jangkauan pemilik kendaraan dan pihak AMP (Agen Pemegang Merek).
Namun kini banyaknya hadir kendaraan listrik dan hibrida bisa jadi pilihan cerdik untuk menghadapi hal tersebut.
Tentu saja bagi APM yang punya konsenterasi besar di mobil listrik dan hibrida, kondisi tadi jga jadi peluang besar. Sebagaimana diungkapkan oleh Head of Marketing MG Motor Indonesia, Harry Kurniawan, yang ditemui langsung pekan ini (7/5).
Disebutkannya bahwa fluktuasi harga minyak mentah yang berimbas pada naik turunnya harga BBM di Indonesia sangat diperhatikan serius pihaknya.
Sekaligus juga dirinya tak menampik bahwa imbas dari fluktuasi minyak global itu setidaknya membuat rerata penjualan mobil listrik di bulan April lebih tinggi dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Meski mendapatkan sinyal positif dari pasar, Harry menyebutkan pihaknya tidak mengandalkan kondisi eksternal itu sebagai faktor tunggal untuk buat mendorong penjualan.
Baginya sebagai APM akan lebih mempersiapkan kehadiran produk-produk MG untuk kurun waktu yang panjang seiring kondisi pasar.
Lebih eksplisit, masih menurut Harry, MG di Indonesia masih akan berkonsenterasi dengan produk SUV.
Kendati belum spesifik namun diyakinkan masih akan ada model terbaru berjenis SUV yang masih akan diluncurkan ke pasar Indonesia sampai akhir tahun 2026.
Saat ditanya soal model MPV, dipungkaskannya bahwa segmen yang punya ceruk pasar besar itu masih dalam proses analisa intensif untuk lebih memastikan produk yang lebih sesuai dengan karakter konsumen nasional. (EW)
