OTODRIVER - Polytron kembali menunjukkan keseriusannya di industri kendaraan listrik nasional.
Setelah merilis mobil listrik G3 dan G3+ pada 2025, perusahaan elektronik asal Indonesia tersebut memastikan akan menghadirkan model mobil listrik terbaru pada tahun ini.
Sinyal kehadiran produk anyar tersebut mulai terungkap melalui tampilan siluet kendaraan yang ditayangkan dalam layar presentasi pada acara Polytron di Jakarta, Senin (20/1).
SUV Jadi Segmen Strategis di Pasar Mobil Listrik Indonesia
Meski belum diungkap secara gamblang, bocoran visual yang ditampilkan langsung memunculkan berbagai spekulasi.
Dari bentuk siluet yang terlihat, model baru tersebut mengarah ke segmen SUV listrik, sebuah kelas kendaraan yang saat ini tengah mengalami pertumbuhan pesat di pasar otomotif Indonesia.
Ketika dikonfirmasi mengenai kemungkinan Polytron kembali masuk ke segmen SUV listrik, Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, memilih untuk belum membuka detail lebih jauh. Ia hanya memberikan pernyataan singkat namun penuh isyarat. “Nanti ditunggu saja,” ujar Tekno.
Dipastikan Dirakit Lokal dengan Skema CKD
Di tengah minimnya informasi soal spesifikasi dan waktu peluncuran, Polytron memastikan satu hal penting terkait skema produksi. Model mobil listrik terbaru ini akan langsung dirakit di Indonesia dengan status CKD (Completely Knocked Down).
Tekno menegaskan bahwa Polytron tidak akan kembali menggunakan skema impor utuh atau CBU (Completely Built Up), mengingat insentif pemerintah untuk CBU kendaraan listrik sudah tidak lagi tersedia.
“Langsung CKD. Dirakit lokal. Enggak mungkin balik ke CBU karena insentifnya sudah enggak ada,” jelas Tekno.
Terbuka Kerja Sama Global, Tak Terpaku pada Satu Negara
Dalam membuat mobil listrik pertamanya Polytron menjalin kemitraan bersama pabrikan otomotif asal China seperti dengan Skyworth, perusahaan asal China, dengan model yang serupa, dimana melahirkan G3 dan G3+.
Namun untuk produk-produk ke depan, Polytron menegaskan bahwa peluang kerja sama tidak dibatasi pada satu negara atau satu mitra saja.
Menurut Tekno, prinsip utama Polytron dalam memilih partner adalah kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar Indonesia serta kesamaan visi jangka panjang.
“Kita enggak cuma kerja sama dengan satu partner. Prinsipnya kita terbuka. Kerja sama nomor satu, mereka punya produk yang sesuai dengan Indonesia. Kedua, tujuannya sama. Mereka mau apa, kita mau apa,” ujarnya.
Kini publik tinggal menunggu pengumuman resmi terkait spesifikasi, harga, serta waktu peluncuran mobil listrik terbaru Polytron yang diyakini akan menjadi salah satu sorotan penting di pasar otomotif nasional tahun ini. (GIN)
