OTODRIVER – JAC resmi memperkenalkan Trekker T9 EV di Indonesia sebagai mobil double cabin bertenaga listrik. Kendaraan ini mulai dipasarkan untuk mendukung kebutuhan operasional di sektor pertambangan, logistik, hingga perkebunan.
JAC Trekker T9 EV diperkenalkan pada ajang Mining Indonesia 2026 yang berlangsung di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9). Pada kesempatan tersebut, JAC juga menyerahkan unit Trekker T9 EV kepada sejumlah konsumen.
Chief Operating Officer (COO) JAC Indomobil, Reggie Kurnia, mengatakan kehadiran kendaraan listrik untuk sektor pertambangan bukan semata-mata berkaitan dengan aspek ramah lingkungan. Menurutnya, efisiensi biaya operasional menjadi salah satu keunggulan utama.
“Bukan cuma soal ramah lingkungan, tapi efisiensi dan nilai lebih di operasional. Kendaraan tambang punya rute terukur dan berkarakteristik. Karena itu mobil listrik jadi andalan yang mendukung operasional,” ujar Reggie pada Otodriver.
Ia menambahkan, karakteristik operasional di sektor pertambangan membuat kendaraan listrik memiliki peluang besar untuk diterapkan. JAC pun menawarkan Trekker T9 EV sebagai bagian dari solusi elektrifikasi untuk konsumen.
“Kali ini kami menyerahkan ke pelanggan kami di event ini. Kami siap jadi partner yang memberikan solusi elektrifikasi ke konsumen. Kami menawarkan solusi operasional yang lebih efisien, efektif dan berkelanjutan,” katanya.
Dari sisi harga, JAC Trekker T9 EV dibanderol Rp888 juta on the road (OTR) Jakarta dalam kondisi normal. Namun, selama penyelenggaraan Mining Indonesia 2026, konsumen mendapatkan potongan harga Rp20 juta sehingga harganya menjadi Rp868 juta.
Pihak JAC menyatakan kini sudah dipesan sebanyak 300 unit, dengan 500 unit pre-order. Segmen utama yang dibidik meliputi pertambangan, logistik dan perkebunan. Dari ketiga sektor tersebut, pertambangan diproyeksikan memberikan kontribusi sekitar 40 persen.
Salah satu daya tarik Trekker T9 EV adalah biaya operasional yang lebih rendah karena tidak lagi menggunakan bahan bakar solar. JAC menyebut efisiensi operasional kendaraan ini dapat mencapai 61 persen dibandingkan kendaraan konvensional untuk kebutuhan operasional perusahaan.
“Kenapa EV? Harga BBM saat ini meningkat, cost operasional lebih kecil. EV tenaganya lebih besar dan low emission,” ujar Reggie.
Untuk mendukung penggunaan di medan berat, Trekker T9 EV versi Indonesia juga mendapatkan sejumlah penyesuaian. Edo Putro, Technical & After Sales Division Head di Indomobil JAC, mengatakan kendaraan ini dibekali fitur differential lock.
“Jalan tambang sebenarnya 4x4 sudah cukup. Tapi dengan fitur ini bisa dipakai saat membuka lahan. Agar bisa digunakan untuk membuka lahan di trek yang tak terduga seperti berbatu dan lainnya,” jelas Edo.
Selain itu, JAC Trekker T9 EV yang dipasarkan di Indonesia telah dirakit secara lokal atau completely knock down (CKD). Kandungan lokalnya disebut telah mencapai 40 persen, dengan sejumlah komponen lokal telah digunakan dalam proses produksinya.
JAC juga menyebut kandungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada produknya dapat mencapai hingga 60 persen. Dukungan ekosistem Indomobil Group turut disiapkan untuk mendukung kebutuhan konsumen, khususnya di sektor komersial dan operasional.
Dengan kombinasi penggerak listrik, sistem 4x4, differential lock, serta biaya operasional yang lebih rendah, JAC Trekker T9 EV diarahkan bukan sekadar sebagai kendaraan ramah lingkungan. Mobil ini diposisikan sebagai kendaraan kerja yang dapat membantu perusahaan menekan biaya operasional sekaligus mendukung proses elektrifikasi di sektor pertambangan dan industri lainnya. (IP)
