OTODRIVER – Sebagai BBM nonsubsidi, penetapan harga Pertamax (RON 92) akan banyak dipengaruhi oleh harga minyak dunia. Jika terjadi peningkatan harga minyak global maka akan berdampak pada naiknya harga Pertamax di seluruh Nusantara. Begitu pula jika ada tren penurunan harga minyak dunia, harga Pertamax juga berpotensi ikut melandai.
Sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, yang pekan ini (22/6/2026) di Jakarta menyampaikan harga Jenis Bahan Bakar Umum (JBU) seperti Pertamax Series untuk bulan depan akan mengikuti dinamika harga minyak dunia.
Pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Antara, merespons dinamika harga minyak dunia. Dimana harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, lalu terkoreksi cepat ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah muncul kerangka damai atas konflik AS-Iran yang mulanya akan ditandatangani di Swiss pekan lalu (19/6/2026).
Walaupun akhirnya proses penyelesaian konflik itu belum juga menemui titik temu namun Joko menyebutkan, “Nanti ke depan seperti apa, nanti kami lihat karena kami basisnya adalah harga satu bulan sebelumnya.”
Harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Mei sebesar 106,56 dolar AS per barel, lebih rendah dibandingkan ICP April yang berada di level 117,31 dolar AS per barel.
Prediksi harga Pertamax sampai Desember 2026
Sementara itu rerata ICP bulan Mei 2026 ditetapkan 106,56 dolar AS per barel, sejalan dengan penurunan harga minyak mentah utama dunia. Seperti pernyataan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, dalam keterangan resminya.
Penurunan ICP bulan Mei sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah utama dunia, khususnya Dated Brent, yang dipengaruhi oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran.
Kendati begitu, Laode harapan positif bahwa sepanjang Mei 2026 pasar minyak global merespons sejumlah perkembangan yang mengindikasikan deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Di lain kesempatan, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax turun secara bertahap dari Rp16.250 per liter pada Juni, menuju kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026.
Yayan, seperti juga dikutip dari Antara (20/6/2026) meyakini bahwa potensi penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka yang ditandai sudah turunnya harga Dexlite dan Pertamina Dex.
Masih menurut Yayan, proyeksi harga Pertamax d bulan Juli 2026 turun ke level Rp15.228 per liter, kemudian Rp14.557 per liter pada Agustus, Rp14.112 per liter pada September, Rp13.814 per liter pada Oktober, Rp13.614 per liter pada November, lalu Rp13.479 per liter pada Desember. (EW)
