OTODRIVER – Salah satu detail yang membuat mobil tampak eksotis adalah pintu tanpa bingkai kaca alias frameless door. Saat pintu dibuka, kaca jendela seolah berdiri sendiri tanpa rangka di bagian atas. Desain ini identik dengan mobil sport, coupe, hingga sedan premium.
Namun, di balik tampilannya yang menarik, pintu frameless menyimpan sejumlah kompromi. Tak heran jika desain ini jarang dipakai pada mobil keluarga atau kendaraan massal.
Bukan Sekadar Urusan Gaya
Berbeda dari pintu konvensional, kaca pada pintu frameless tidak ditopang rangka berupa bingkai di bagian atas daun pintu. Saat posisi menutup atas kaca langsung menempel pada karet yang terpasang di bodi mobil. Posisi kaca dan tekanannya terhadap karet harus presisi agar air tidak masuk dan suara angin tetap teredam.
Dokumen paten kendaraan yang tercatat di Google Patents menyebut kondisi ini menyulitkan upaya menekan kebocoran udara dan air, terutama pada kecepatan tinggi. Tekanan aerodinamis saat mobil melaju kencang bisa mendorong kaca sedikit keluar dari karet perapat, sehingga muncul suara angin.
Untuk mengatasinya, mobil modern mengadopsi sistem glass indexing. Kaca turun sedikit ketika pintu dibuka, lalu naik kembali setelah pintu ditutup. Sistem ini membantu kaca melewati karet perapat tanpa berbenturan dengan bodi. Dokumen paten yang sama menyebut, tanpa indexing, kaca yang menekan karet saat pintu dibuka dapat membuat pintu lebih berat dibuka, mempercepat keausan karet, dan memunculkan suara. Kondisi ini terjadi pada mobil lawas yang menggunakan pintu gaya frameless.
Subaru Pernah Menjadikannya Ciri Khas
Pintu frameless pernah jadi simbol kemewahan di era 50-an, walau kemudian penggunaan pun melebar tak hanya pada jenis sedan. International Scout tercatat sebagai mobil SUV pertama yang menggunakan pintu frameless ini.
Salah satu mobil yang pernah menggunakan pintu frameless sebagai cirinya adalah Subaru. Pabrikan Jepang ini pertama kali menggunakannya pada Leone di 1971. Kemudian ciri ini dibawa ke sejumlah lini produksinya.
Model-model mulai dari Legacy, Impreza, hingga Forester menggunakannya sebagai ciri khas. Bisa dikata pintu frameless sebagai salah satu karakter tersendiri bagi Subaru di masa lalu selain suara khas mesin boxer.
Walau kemudian Subaru mulai meninggalkan desain tersebut pada generasi baru Impreza dan Forester di akhir 2000-an, disusul Legacy.
Walau kemudian Subaru meninggalkan desain tersebut karena ingin meningkatkan kekakuan pintu, memperluas akses keluar-masuk, dan memperbaiki kekedapan kabin, dikutip dari laporan BestCarWeb.
Eksotis, tetapi Ada Kompromi
Pintu frameless tetap punya tempat, terutama pada mobil sport, coupe, dan model premium yang mengutamakan desain. Namun untuk mobil yang dipakai setiap hari, pabrikan harus memperhitungkan kenyamanan, biaya produksi, dan kerumitan mekanismenya.
Pengaturan posisi kaca bahkan terus dikembangkan. Salah satu dokumen paten menggambarkan sistem dua tahap yakni satu tingkat penekanan kaca agar pintu mudah dibuka saat mobil berhenti, dan tingkat kedua yang menambah tekanan saat mobil melaju di kecepatan jalan tol.
Fakta bahwa solusi serumit ini dibuat menunjukkan betapa sulitnya menyeimbangkan kekedapan dan kemudahan membuka pintu.
Selain itu kekedapan kabin sangat tergantung dari karet yang merapatkan kaca. Jika bagian ini menua atau posisi kaca yang bergeser juga berpotensi memunculkan suara angin maupun kebocoran air. Meski begitu, bukan berarti semua mobil frameless bermasalah. Namun pada umumnya jenis frameless ini lebih rumit dan butuh kualitas rekayasa yang lebih tinggi. Artinya jika pingin sekedap pintu dengan frame, maka frameless bisa jadi lebih mahal dan akan berpengaruh dengan harga jual.
Pada akhirnya, pintu frameless bukan desain yang gagal atau sepenuhnya ditinggalkan. Hanya saja, tampilannya yang eksotis harus dibayar dengan tuntutan rekayasa yang lebih tinggi. Untuk mobil massal, pintu konvensional sering kali menjadi pilihan yang lebih rasional. (SS)
