OTODRIVER – Pembahasan soal baterai solid-state sudah lama jadi bahan perbincangan di dunia mobil listrik. Teknologi ini digadang-gadang menjadi lompatan besar berikutnya. Namun sebelum sampai ke sana, muncul satu istilah yang kini semakin sering terdengar, yakni semi-solid-state.
Istilah itu kembali ramai setelah Svolt, perusahaan baterai yang didirikan Great Wall Motor (GWM), mengumumkan pada 26 Oktober 2026 bahwa baterai semi-solid-state berkapasitas 100 kWh mulai diproduksi massal di Changzhou, China. Lalu apa sebenarnya semi-solid-state, dan apa bedanya dengan solid-state?
Untuk memahaminya, kita perlu melihat dulu cara kerja baterai lithium-ion konvensional. Mengutip Departemen Energi AS, baterai lithium-ion memakai elektrolit cair sebagai media perpindahan ion antara anoda dan katoda, baik saat pengisian maupun saat pelepasan energi. Teknologi inilah yang selama ini mendominasi pasar mobil listrik.
Solid-State dan Semi-Solid-State
Pada baterai solid-state, elektrolit padat menjadi media utama perpindahan ion. Seperti dijelaskan Murata, elektrolit padat diharapkan memungkinkan baterai berkapasitas dan berdaya lebih besar, serta lebih unggul dari sisi keselamatan. Dengan menyingkirkan elektrolit cair dari sistem utama, risiko kebocoran elektrolit yang mudah terbakar juga berpotensi ditekan.
Namun, jalan menuju ke sana tidak mulus. Tantangannya mencakup biaya produksi, proses manufaktur, kontak antarmaterial di dalam sel, hingga ketahanan baterai dalam penggunaan jangka panjang.
Lalu, apa itu baterai semi-solid-state? Pendekatannya masih berkutat pada elektrolit cair. Pada baterai ini, sebagian elektrolit cair digantikan atau dikurangi dengan material berbasis padatan. Artinya, komponen cairnya belum hilang sepenuhnya.
Formulasi pastinya bisa berbeda antarprodusen. Karena itu, label semi-solid-state tidak selalu berarti komposisi yang sama di setiap baterai.
Tujuan pendekatan ini adalah menggabungkan keunggulan elektrolit padat dengan teknologi lithium-ion yang sudah matang. Produsen berharap bisa meningkatkan keselamatan dan potensi kepadatan energi tanpa harus langsung berpindah ke arsitektur solid-state sepenuhnya.
Dragon Armor dari Svolt
Dikutip dari CarNewsChina, baterai semi-solid-state Svolt bernama Dragon Armor menjadi contoh yang sudah masuk produksi massal. Kapasitasnya 100 kWh dengan sistem tegangan 900 volt dan kemampuan pengisian hingga 6C. Svolt mengklaim baterai ini bisa menambah jarak tempuh hingga 500 km hanya dalam 12 menit pengisian.
Untuk baterai 100 kWh, angka 6C setara daya sekitar 600 kW secara teoritis. Angka itu gambaran kondisi ideal, bukan jaminan daya sebesar itu bertahan sepanjang proses pengisian. Hasil nyatanya akan dipengaruhi kendaraan yang memakainya, kondisi baterai, suhu, kemampuan stasiun pengisian, dan standar pengukuran jarak tempuh.
Svolt juga mengklaim baterai ini mampu mencapai 3.000 siklus pengisian dengan potensi usia pakai teoritis lebih dari 1 juta km. Klaim tersebut perlu dilihat dalam konteks metode pengujian dan pola pemakaian. Jumlah siklus saja tidak serta-merta menentukan jarak tempuh total, karena kedalaman pengisian, suhu, dan batas degradasi yang dipakai ikut berpengaruh.
Sampai saat ini, Svolt belum menyebut mobil pertama yang akan memakai baterai tersebut. Walau demikian, CarNewsChina memperkirakan Wey V8X versi listrik murni berpotensi menjadi salah satu kandidat, tetapi hal itu belum dikonfirmasi secara resmi.
Svolt menilai baterai solid-state murni masih membutuhkan waktu sebelum siap diproduksi massal dalam skala luas. Di sisi lain, label semi-solid-state maupun solid-state tidak otomatis menjamin baterai lebih aman, lebih awet, atau lebih cepat diisi, karena hasil akhirnya bergantung pada desain sel, kimia baterai, dan rekayasa paketnya.
Kehadiran Dragon Armor menunjukkan bahwa kemajuan teknologi baterai tidak harus menunggu solid-state matang sepenuhnya. Industri bisa melangkah lebih dulu lewat teknologi peralihan, sambil terus menyelesaikan tantangan material dan produksi untuk baterai generasi berikutnya. (SS)
