BUS-TRUCK – Meskipun minat publik Jakarta terhadap kebutuhan transportasi terus meningkat namun tingkat penggunaan transportasi umum di kota Jakarta masih terbilang rendah.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut tingkat penggunaan transportasi umum di Ibu Kota, dari sekitar 20,2 juta perjalanan per hari baru 22,19 persen warga Jakarta yang memanfaatkan angkutan umum.
Rano, seperti dkutip dari Antara (30/12) juga menyoroti ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan dan penambahan ruas jalan.
Berdasarkan data Polda Metro Jaya, pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 2,7 persen per tahun, sementara penambahan ruas jalan hanya sekitar 0,01 persen. Ketimpangan ini menjadi salah satu faktor utama memburuknya kemacetan dan tingginya tekanan mobilitas di Jakarta.
Dalam kondisi tersebut, keberlanjutan subsidi transportasi publik menjadi perhatian utama masyarakat. Pada 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap mengalokasikan anggaran besar untuk sektor perhubungan agar tarif transportasi massal tetap terjangkau.
Subsidi terbesar dialokasikan kepada pelayanan MRT Jakarta sebesar Rp536,70 miliar, untuk operasional LRT Jakarta sebesar Rp325,28 miliar, dan Transjakarta mendapatkan subsidi terbesar yang mencapai angka Rp3,75 triliun.
Tidak ada lagi pengadaan bus baru buat Transjakarta kecuali bertenaga listrik (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)
Subdisi untuk perluasan jangkauan dan penambahan armada
Sementara itu, Transjakarta terus memperluas jangkauan layanan hingga wilayah penyangga melalui Transjabodetabek dengan tarif Rp3.500, melayani rute dari Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, BSD, hingga PIK 2.
Sejumlah rute perluasan Transjabodetabek yakni B11 (Summarecon Bekasi–Cawang). B21 (Bekasi Timur–Cawang). B41 (Vida Bekasi–Cawang Sentral). D11 (Depok–Cawang Sentral via Cibubur). D21 (Universitas Indonesia–Lebak Bulus). D41 (Sawangan–Lebak Bulus via Tol Desari). P11 (Blok M–Bogor). S11 (BSD [Serpong]–Jelambar). S21 (CSW–Ciputat). S22 (Ciputat–KP Rambutan). S61 (Alam Sutera–Blok M). SH1 (Kalideres–Perkantoran Soekarno Hatta). T11 (Poris Plawad–Petamburan). T12 (Poris Plawad–Juanda). T31 (PIK 2–Blok M).
Mendapatkan subsidi terbesar membuat Transjakarta juga menjadi moda dengan jumlah penumpang terbesar. Pada Oktober 2025, jumlah penumpang mencapai 40.360.840 orang.
Secara kumulatif Januari–Oktober 2025, Transjakarta melayani 339.113.847 penumpang atau meningkat 7,07 persen dibandingkan tahun 2024. Jumlah bus yang beroperasi tercatat 5.073 unit, dan target penumpang 2025 diproyeksikan menembus 400 juta orang.
Namun, peningkatan layanan itu bersamaan dengan tantangan keselamatan. Beberapa kali armada Transjakarta mengalami kecelakaan lalu lintas.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menegaskan setiap pengemudi yang akan masuk layanan Transjakarta wajib memiliki sertifikasi pengemudi angkutan umum.
Sertifikasi diperoleh melalui Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi atau Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) di Tegal, berlaku selama tiga tahun, dan diperpanjang melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). (EW)
Penambahan armada Jaklingko yang masik ke wilayah pemukiman perlu ditingkatkan agar ada penurunan pemakaian kendaraan pribadi untuk jarak pendek (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)










