OTODRIVER - Mobil listrik diperkirakan akan menjadi segmen yang terus membesar dan berkembang pesat di Indonesia. Trend bertambahnya mobil listrik ini dapat dilihat dari semakin banyak brand mobil yang fokus bermain di segmen ini untuk pasar Indonesia.
Namun ternyata ada kekhawatiran bahwa perkembangan ini tidak diikuti dengan pengetahuan mengenai mobil listrik itu sendiri. Salah satunya apabila mobil listrik mogok atau mengalami kehabisan energi baterai.
Bagaimana menangani mobil listrik mogok yang benar?
Pakar mobilitas berkelanjutan, Mahaendra Gofar membeberkan bahwa penanganan mobil listrik yang kehabisan baterai tidak bisa disamakan dengan penanganan mobil bensin yang kehabisan bensin.
“Kalo sekedar didorong untuk dipinggirkan ke tempat yang tak terlalu jauh tidak terlalu jadi masalah. Namun tidak demikian jika dipaksa harus ditarik dalam jarak yang jauh, semisal ditarik ke SPKLU untuk melakukan charging,” sambungnya.
"Banyak yang belum paham bahwa mobil listrik tidak bisa ditarik sembarangan. Jika roda penggerak berputar saat ditarik, motor listrik tetap menghasilkan daya meskipun mobil dalam kondisi mati. Ini bisa merusak sistem penggerak atau baterai," kata pria yang pernah berkantor markas di salah satu brand mobil Jerman ini.
Lebih jauh lagi ia menyebutkan bahwa salah satu layanan yang diberikan oleh agen pemegang merek (APM) terhadap mobil listrik yang kehabisan daya listrik yakni dengan mengirim mobil listrik lainnya untuk melakukan charging (V2L) pada mobil yang kehabisan daya. Tujuannya memberikan daya sementara untuk bisa melanjutkan melakukan pengisian daya yang proper di SPKLU terdekat. (SS)