OTODRIVER - Kendaraan hybrid menjadi satu bagian yang cukup dinamis dalam pengembangannya.
Jenis mobil Plug-in Electric Vehicle disebut-sebut sebagai transisi antara dunia ICE (internal cumbostion engine) dan BEV (battery electric vehicle) yang paling ideal saat ini.
PHEV pada awalnya dapat didefinisikan sebagai sebuah mobil hybrid yang dibekali baterai lebih besar (dibanding HEV) dan baterainya bisa dicharge.
Dengan demikian ia mampu berjalan dengan mode listrik murni dengan jarak lebih jauh. Diharapkan mobil ini mampu memberi efisiensi yang lebih baik
BYD tercatat sebagai pionir bagi PHEV ini yang dimulainya melalui BYD F3DM pada 2008.
Secara umum, kinerja sistem PHEV ini menganut sistem hybrid pararel alias memadukan kinerja mesin dan motor listrik sebagai penggerak kendaraan.
Dalam perkembangannya, sistem plug-in ini lantas berkembang. Kemunculan Chevrolet Volt pada 2011 yang menyuguhkan sistem baru, yakni sebuah mobil yang dilengkapi dengan mesin dan motor listrik.
Ia disebut sebagai Range Extender Electric Vehicle (REEV) atau bisa juga disebut sebagai Extender Range Electric Vehicle (REEV).
Walau punya prinsip yang bisa dikatakan sama, yakni dibekali baterai lebih besar dan bisa dicharge, akan tetapi punya prinsip kerja yang beda, di mana mesin bensin hanya berlaku sebagai generator saja dan mobil sepenuhnya digerakkan melalui motor listrik (electric driven).

Mengutip dari Wanchengev, dikatakan bahwa sistem EREV ini dinilai lebih baik dalam transisi penggunaan ICE ke BEV.
Salah satunya karena memberikan pengalaman dan karakter berkendara serasa mobil listrik murni.
Walau ada perbedaan pada sumber penggeraknya, namun ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa REEV bisa juga disebut sebagai sebuah PHEV dengan sistem pengerak hybrid series.
Plug-in Hybrid di Indonesia
Plug-in Hybrid menjadi teknologi yang masuk Indonesia setelah teknologi hybrid (HEV).
Untuk plug-in hybrid pararel Toyota masuk sebagai pioneer dengan Prius walau hanya sebatas perkenalan teknologi saja.
Dalam perkembangannya sampai saat ini beberapa produsen China, seperti Chery dan Wuling sudah menjual produk PHEV (pararel hybrid) di Indonesia.
Sebaliknya, belum satupun pabrikan yang menawarkan REEV untuk pasar di Indonesia. Kendati ada rencana untuk memboyongnya.
Salah satunya adalah BAIC yang berencana membawa BAIC BJ40e yang merupakan REEV yang dibangun di atas arsitektur sasis tangga.
Perkembangan Plug-in Di China
Jika melihat perkembangan yang ada saat ini, banyak pabrikan China yang memperkenalkan REEV. Bahkan populasinya pun berimbang dengan versi PHEV pararel.
Saat ini sebagian industri otomotif negeri tirai bambu mengganggap REEV sebagai next step dari PHEV dengan sistem pararel.
Carnewschina menyebut bahwa pasar telah menerima edukasi dari penggunaan BEV dan telah merasakan keunggulannya dengan kehalusan berkendara, torsi yang spontan dan kesenyapan.
Dan disebutkan bahwa edukasi tentang mobil listrik murni telah berhasil dan pasar sudah cukup nyaman dengan keunggulan sebuah mobil setrum murni. Akan tetapi tetap saja Range Anxiety masih menjadi momok.
Di negeri Tiongkok, saat ini REEV dianggap sebagai jembatan paling ideal dalam transisi ICE to EV. Bahkan REEV disebut sebagai BEV tanpa range anxiety. (SS)








