OTODRIVER - Mazda Indonesia resmi memulai produksi lokal Mazda CX-30 di fasilitas perakitan dalam negeri. Keputusan tersebut bukan diambil secara instan, melainkan melalui proses perencanaan yang panjang serta mempertimbangkan siklus hidup produk, kesiapan manufaktur, hingga standar yang ditetapkan prinsipal Mazda di Jepang.
President Director Mazda Indonesia, Ricky Thio, menjelaskan bahwa pemilihan Mazda CX-30 sebagai model pertama yang dirakit secara lokal dilakukan berdasarkan sejumlah pertimbangan strategis. Salah satunya adalah usia produk yang masih panjang sehingga layak diproduksi dalam jangka waktu yang lebih lama.
“Ketika kami merencanakan produksi lokal, kami harus memilih model yang masih memiliki siklus hidup panjang. Kami tidak mungkin memilih model yang dalam waktu dekat akan berganti generasi,” ujar Ricky Thio.

Menurutnya, proses mempersiapkan sebuah model untuk diproduksi di Indonesia membutuhkan waktu yang tidak singkat. Seluruh aspek harus dipersiapkan secara matang, mulai dari pengemasan komponen, pengaturan pasokan suku cadang, hingga proses produksi di pabrik.
“Persiapan produksi lokal tidak bisa dilakukan hanya dalam hitungan bulan. Semua harus direncanakan secara detail, mulai dari packing, pengaturan komponen, hingga seluruh proses manufakturnya. Itu membutuhkan waktu yang panjang,” jelasnya.
Karena alasan tersebut, Mazda memilih CX-30 yang saat ini masih berada pada generasi kedua dan dinilai masih memiliki masa edar yang panjang di pasar global.

Selain mempertimbangkan produk, Mazda juga melakukan seleksi yang sangat ketat dalam menentukan lokasi fasilitas produksi. Ricky mengungkapkan bahwa proses audit dari pihak Jepang dilakukan hingga beberapa kali sebelum akhirnya lokasi tersebut disetujui.
“Bukan sekadar mencari lahan yang luas. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Tim dari Jepang datang berkali-kali untuk melakukan evaluasi, mulai dari kemampuan fasilitas, keahlian tenaga kerja, lokasi, hingga kondisi geografisnya,” katanya.
Evaluasi tersebut bahkan mencakup aspek teknis seperti kondisi kontur tanah, potensi pergerakan tanah, hingga berbagai faktor yang dapat memengaruhi kualitas proses produksi dalam jangka panjang.
“Setelah melalui seluruh proses analisis, akhirnya lokasi ini dinilai sebagai tempat yang paling sesuai untuk memenuhi standar produksi Mazda,” tutup Ricky Thio.
Dengan dimulainya produksi lokal Mazda CX-30, Mazda Indonesia berharap dapat meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus memperkuat komitmennya dalam mengembangkan industri otomotif nasional. (RA)
















