OTODRIVER - Mazda kembali menyegarkan CX-6e dengan menambahkan perangkat LiDAR di bagian atap. Berkat teknologi tersebut, SUV kelas menengah ini kini dibekali kemampuan Navigation-on-Autopilot (NOA) untuk berkendara di jalan tol maupun perkotaan.
Di China, CX-6e dikenal sebagai Mazda EZ-60 dan menjadi model kendaraan energi baru (NEV) kedua Mazda setelah sedan 6e atau EZ-6. SUV ini menggunakan platform EPA1 milik Changan dan memiliki hubungan teknis yang erat dengan Deepal S07.

Penyegaran kali ini menghadirkan sistem bantuan mengemudi Advanced Level 2 yang diklaim mampu menangani lebih dari 200 skenario berkendara. Sistem tersebut didukung tiga radar mmWave, 12 radar ultrasonik, serta 11 kamera.
Di jalan tol, CX-6e kini dapat menangani lebih banyak manuver secara otomatis, termasuk mendekati pintu masuk dan keluar tol serta menuju area peristirahatan dengan intervensi pengemudi yang minim. Mobil juga mampu mendahului kendaraan yang lebih lambat dengan melakukan perpindahan lajur secara otomatis.
Untuk penggunaan di perkotaan, sistem tersebut dapat menangani persimpangan dan bundaran tanpa input pengemudi. CX-6e juga dapat melakukan putar balik secara otomatis, berpindah antara jalan utama dan jalur akses di sampingnya, serta melakukan perpindahan lajur darurat untuk menghindari rintangan.
Mazda menyebut sistem berbasis LiDAR ini bekerja pada kecepatan 0-130 km/jam di jalan tol dan 0-80 km/jam di perkotaan. Selain itu, tersedia pula fitur parkir otomatis dari jarak jauh, parkir otomatis, serta kemampuan mengikuti jalur tertentu.
Menariknya, Deepal S07 yang menggunakan platform serupa juga menawarkan sistem bantuan mengemudi Huawei Qiankun ADS dengan LiDAR pada varian tertingginya. Namun, Mazda belum mengungkap apakah teknologi serupa akan diterapkan pada sedan 6e.
Untuk versi EV, CX-6e menggunakan baterai LFP berkapasitas 77,94 kWh dari CALB. Jarak tempuhnya mencapai 585 km hingga 600 km berdasarkan CLTC, atau sekitar 474-486 km menurut WLTP.
Motor listrik yang digunakan berada di belakang dengan tenaga 190 kW atau sekitar 255 hp. Kecepatan maksimumnya mencapai 185 km/jam. Pengisian cepat 3C memungkinkan baterai terisi dari 30 hingga 80 persen hanya dalam waktu 15 menit.
Sementara varian EREV mengandalkan mesin bensin 1.500 cc naturally aspirated berdaya 72 kW atau sekitar 97 hp sebagai range extender. Motor listrik belakangnya tetap menghasilkan 190 kW atau 255 hp dan memiliki kecepatan maksimum 185 km/jam.
Baterainya lebih kecil, yakni 31,73 kWh berjenis LFP dari CATL-Changan, dengan jarak tempuh listrik hingga 200 km berdasarkan CLTC atau sekitar 162 km WLTP. (AW)











