OTODRIVER – BYD sebetulnya memiliki rencana besar untuk membuat pabrik di Negeri Jiran, namun ternyata belum terealisasi dan malah terancam batal.
Disitat dari Asia Nikkei, keputusan tersebut muncul setelah pemerintah Malaysia menerapkan aturan baru untuk investor otomotif yang ingin membangun pabrik baru.
Persyaratan tersebut mencakup kewajiban mengekspor sebagian besar hasil produksi, membatasi penjualan domestik, serta mendorong keterlibatan rantai pasok lokal.
Skema itu, dinilai membuat model bisnis BYD lebih cocok dijalankan melalui kemitraan manufaktur, dibanding membangun fasilitas baru dari nol.
Kesempatan tersebut juga menimbulkan wacana produksi utama di negara terdekat di Indonesia, meski belum ada tanggapan lebih lanjut dari pihak BYD yang Otodriver tanyakan.

Sebelumnya, BYD sempat mengumumkan investasi sekitar RM1,3 miliar atau setara Rp 5,3 triliun untuk membangun pabrik di Tanjung malim, Perak.
Fasilitas tersebut awalnya dirancang menjadi basis produksi kendaraan listrik BYD di Malaysia sekaligus mendukung ekspor ke kawasan ASEAN.
Namun, perkembangan proyek tersebut praktis terhenti sejak awal tahun. Di sisi lain, sinyal perubahan strategi semakin terlihat ketika Vice President sekaligus General Manager Asia Pacific Auto Sales Division BYD, Liu Xueliang, mengunjungi pabrik Inokom milik Sime Motors di Kulim, Kedah.
Kunjungan itu memicu spekulasi bahwa Inokom berpotensi menjadi mitra perakitan lokal BYD di Malaysia. Dengan begitu, jenama Negeri Tirai Bambu ini akan menggunakan skema Completely Knocked Down (CKD), untuk produksi di Malaysia. Bisa saja CKD tersebut datang dari pabrik Subang, Jawa Barat. (AB)
#pabrik-byd #mobil-baru-byd #pabrik-subang-produksi-byd-m6 #harga-mobil-baru-pabrik-byd











