OTODRIVER - Idealisme di dunia otomotif kian langka. Mobil makin seragam, mulai dari mesin hingga fitur. Di tengah tren itu, Subaru termasuk sedikit pabrikan yang tetap memegang ciri khasnya: mesin boxer yang sudah melekat selama puluhan tahun.
Keputusan ini bukan sekadar soal tradisi. Ada alasan teknis mengapa pabrikan asal Jepang tersebut belum mau meninggalkan mesin boxer. Konfigurasi ini bahkan menjadi salah satu identitas utama Subaru, terutama ketika dipadukan dengan sistem penggerak Symmetrical All-Wheel Drive (AWD).
Lalu, apa sebenarnya keistimewaan mesin boxer?
Eksperimen Carl Benz
Sesuai namanya, gerakan piston pada mesin boxer menyerupai dua petinju yang saling melayangkan pukulan. Piston-pistonnya berhadapan secara horizontal dengan sudut 180 derajat, di sisi kiri dan kanan poros engkol atau crankshaft.
Konfigurasi ini membuat mesin berbentuk pipih (flat), berbeda dengan mesin empat silinder segaris yang umumnya berdiri tegak.
Subaru bukanlah pencipta mesin boxer. Menurut catatan resmi Mercedes-Benz Classic, Carl Benz memperkenalkan contra engine menjelang akhir abad ke-19, tak lama setelah mesin “twin engine” rancangannya pada 1897. Mesin ini adalah dua silinder datar dengan piston yang bergerak berlawanan arah. Mercedes-Benz menyebutnya sebagai mesin boxer pertama dalam sejarah otomotif.
Subaru sendiri mulai memakai mesin boxer pada 14 Mei 1966 lewat Subaru 1000. Dalam rilis peringatan 50 tajun mesin boxer yang diterbitkan Fuji Heavy Industries (nama lama Subaru Corporation) pada Mei 2016, perusahaan menyebut total produksi mesin boxer-nya telah melampaui 16 juta unit.
Tetap Bertahan dengan Boxer
Mengapa Subaru begitu mempertahankan konfigurasi ini?
Jawabannya berkaitan dengan keseimbangan dan karakter berkendara. Dalam rilis yang sama, Subaru menjelaskan bahwa piston yang bergerak berlawanan saling meredam gaya inersia satu sama lain. Hasilnya, getaran berkurang dan putaran mesin lebih seimbang, sehingga mesin terasa halus hingga putaran tinggi.
Keuntungan lainnya adalah posisi mesin yang lebih rendah. Karena bentuknya pipih, mesin boxer bisa ditempatkan lebih rendah di atas sasis dibandingkan mesin konvensional.
Menurut Subaru of America, penempatan ini ditambah distribusi bobot yang merata membuat pusat gravitasi kendaraan lebih rendah. Dampaknya, mobil berpotensi lebih stabil saat bermanuver, terutama di tikungan.
Keunggulan itu makin terasa ketika mesin boxer dipadukan dengan sistem Symmetrical AWD khas Subaru. Mesin dipasang secara longitudinal dan menjadi bagian dari susunan drivetrain yang relatif simetris. Subaru menyebut tata letak simetris ini memberikan distribusi bobot yang seimbang, sehingga traksi dan pengendalian lebih terjaga.
Karena itu, kombinasi tersebut tetap dipertahankan pada model seperti WRX, Forester, Crosstrek, hingga Outback.
Ada Konsekuensi di Balik Kelebihannya
Meski punya sejumlah keunggulan, mesin boxer juga memiliki kekurangan.
Tantangan utamanya adalah dimensi mesin yang relatif lebar. Silinder pada mesin segaris tersusun dalam satu baris, sedangkan mesin boxer membentang ke sisi kiri dan kanan. Akibatnya, perancang kendaraan punya ruang lebih terbatas untuk menempatkan komponen lain di ruang mesin.
Konfigurasi ini juga membuat beberapa pekerjaan perawatan lebih rumit. Contohnya, penggantian busi pada sejumlah model Subaru bisa memakan waktu lebih lama karena aksesnya terbatas.
Selain itu, mesin boxer memiliki dua kepala silinder (cylinder head). Artinya, ada dua rangkaian komponen kepala silinder yang harus diperhitungkan, baik dalam produksi maupun perawatan.
Sejumlah mesin boxer Subaru generasi lama, khususnya keluarga EJ, juga dikenal punya persoalan gasket kepala silinder. Isu ini kerap dibahas dalam diskusi teknis dan komunitas pemilik Subaru. Namun, persoalan tersebut tidak bisa digeneralisasi ke seluruh mesin boxer, karena sangat bergantung pada generasi mesin, material komponen, dan riwayat perawatannya.
Tradisi yang Masih Punya Alasan Kuat
Saat ini efisiensi produksi dan keseragaman komponen menjadi pertimbangan penting bagi pabrikan. Di tengah situasi itu, mempertahankan mesin dengan konfigurasi yang tidak umum jelas bukan keputusan sederhana.
Namun bagi Subaru, mesin boxer bukan hanya soal menghasilkan tenaga. Posisi mesin yang rendah, gerak piston yang seimbang, dan kemampuannya berpadu dengan sistem Symmetrical AWD adalah bagian dari filosofi pengembangan kendaraan mereka.
Dengan kata lain, Subaru tidak mempertahankan teknologi lama demi nostalgia semata. Ada karakter berkendara yang ingin terus dijaga.
Selama keunggulan itu masih relevan dan menjadi pembeda produknya, mesin boxer tampaknya akan tetap menjadi salah satu idealisme dan identitas penting Subaru. (SS)
