OTODRIVER – Lampu mundur, atau yang akrab disebut lampu atret, mungkin jadi salah satu fitur mobil yang paling jarang diperhatikan. Padahal, fungsinya krusial: memberi penerangan bagi pengemudi saat bermanuver mundur, sekaligus jadi sinyal bagi orang di belakang bahwa mobil sedang bergerak mundur. Menariknya, penemuan fitur sederhana ini punya cerita asal-usul yang cukup unik, semuanya berawal ketika ada seorang laki-laki Amerika yang berulang kali memundurkan mobilnya dan lantaran gelap ia berulang kali menabrak hidran.
Berawal dari Hidran
Childe Harold Wills, atau lebih dikenal dengan nama C.H. Wills, merupakan salah satu karyawan pertama Henry Ford, bergabung sejak 1899, bahkan sebelum Ford Motor Company resmi berdiri pada 1903. Melalui tangan chief designer dan metalurgis inilah rancangan tulisan "Ford" lahir, yang kemudian menjadi cikal-bakal logo oval biru Ford yang masih dipakai hingga sekarang.
Mengutip Jalopnik, setelah hubungannya dengan Henry Ford merenggang, Wills memutuskan keluar dengan pesangon lebih dari 1,5 juta dolar AS, dan menggunakan uang tersebut untuk mendirikan perusahaan mobilnya sendiri, Wills Sainte Claire, di Marysville, Michigan.
Di sinilah cerita lampu mundur bermula. Menurut cerita yang beredar, Wills kerap menabrak hidran kebakaran saat memundurkan mobilnya sendiri. Cukup jengkel dengan kebiasaan itu, ia pun merancang solusi sederhana yakni lampu yang menyala otomatis saat gigi mundur diaktifkan. Nyala lampunya pun dipilih putih terang agar pengemudi bisa melihat area belakang dengan lebih jelas.
Debut di Wills Sainte Claire A-68
Fitur ini pertama kali dipasang pada mobil Wills Sainte Claire A-68, yang mulai diproduksi pada Januari 1921. Mobil ini sendiri sebenarnya sarat fitur canggih untuk ukuran zamannya — mengusung mesin V8 overhead cam 4,4 liter yang terinspirasi dari mesin pesawat era Perang Dunia I. Hubungan dengan pesawat terbang bukan omong kosong, lantaran sebelumnya Wills terlibat dalam produksi mesin pesawat Liberty L-12 di pabrik Ford.
Menurut The Drive, selain lampu mundur, A-68 juga sudah dilengkapi dual exhaust dan speedometer buatan Waltham Watch Company yang berbasis paten Nikola Tesla dari 1916. Fitur-fitur seperti inilah yang jauh melampaui standar mobil kebanyakan di era 1920-an.
Cara kerja lampu mundur ciptaan Wills ini pun sudah sangat mirip dengan yang kita kenal sekarang, yang bakal menyala otomatis begitu tuas transmisi dipindahkan ke posisi mundur.
Menjadi Standar Industri, Tapi Wills Sainte Claire Malah Bangkrut
Sederhana, tapi karya Wills itu cukup jenius dan visioner. Hanya saja ketika terjadi resesi pada 1926, kondisi keuangan perusahaan pun memburuk, dan Wills Sainte Claire akhirnya dilikuidasi pada 1927.
Mengutip PistonHeads, lampu mundur otomatis baru mulai diadopsi produsen Eropa seperti Volvo pada 1933, sementara pabrikan asal AS sendiri seperti Chrysler bahkan baru menjadikannya fitur standar jauh lebih belakangan lagi.
Pada akhirnya, fitur ini pun jadi mandatori regulasi di berbagai negara, semakin mengukuhkan warisan Wills Sainte Claire dalam sejarah otomotif dunia. (SS)
