OTODRIVER - Pemilik mobil umumnya menggunakan jarak tempuh pada odometer sebagai patokan untuk menentukan waktu penggantian oli mesin. Namun, ternyata ada cara lain yang bisa digunakan untuk memperkirakan kapan pelumas perlu diganti, yakni melalui jumlah bahan bakar yang telah dikonsumsi kendaraan.
Metode tersebut dikenal dengan istilah fuel burn. Cara ini memperhitungkan jumlah bahan bakar yang dibakar mesin untuk menggambarkan beban kerja kendaraan selama digunakan.
Sr Analyst PCO & Specialties Pertamina Lubricants, Mulianto, menjelaskan bahwa metode tersebut dapat menjadi pendekatan alternatif bagi pemilik kendaraan dalam memperkirakan waktu penggantian oli.
“Hal ini terutama relevan bagi pengguna mobil yang kerap menghadapi kemacetan atau menggunakan kendaraan dalam kondisi mesin tetap menyala meskipun mobil tidak banyak bergerak,” ujar Mulianto saat ditemui Otodriver beberapa waktu lalu.
Cara Menghitung Waktu Ganti Oli Mobil dengan Metode Fuel Burn
Selama ini, penggantian oli mobil biasanya mengacu pada jarak tempuh tertentu, misalnya setiap beberapa ribu kilometer atau sesuai interval yang ditetapkan pabrikan.
Namun, menurut Mulianto, waktu penggantian pelumas juga dapat diperkirakan berdasarkan konsumsi bahan bakar kendaraan.
Ia memberikan gambaran perhitungan teoritis, yakni setiap 1 liter kapasitas oli mesin dikaitkan dengan konsumsi sekitar 110 liter bahan bakar.
Sebagai contoh, mobil yang memiliki kapasitas oli mesin 4 liter dapat menggunakan angka tersebut sebagai acuan perhitungan.
Artinya, 4 liter dikalikan 110 liter bahan bakar menghasilkan angka sekitar 440 liter BBM.
“Ketika konsumsi bahan bakar mobil sudah mendekati jumlah tersebut, pemilik kendaraan bisa menjadikannya sebagai pengingat untuk mengevaluasi kondisi oli dan jadwal penggantian pelumas,” papar Mulianto.
Mengapa Konsumsi BBM Bisa Menjadi Patokan Ganti Oli?
Metode fuel burn memiliki keunggulan karena turut memperhitungkan aktivitas mesin ketika mobil tidak sedang berjalan.
Sebagai contoh, pengendara yang setiap hari melewati kemacetan mungkin tidak mencatat penambahan kilometer yang signifikan. Namun, mesin tetap bekerja dan mengonsumsi bahan bakar selama perjalanan.
Kondisi serupa juga terjadi ketika mobil digunakan untuk menjemput anak sekolah, menunggu seseorang di parkiran, atau terjebak antrean panjang dengan mesin tetap menyala.
Dalam situasi tersebut, odometer tidak selalu menggambarkan keseluruhan beban kerja mesin.
"Kalau sudah 110 liter, sudah saatnya kira-kira ganti," jelas Mulianto saat memberikan ilustrasi perhitungan untuk mesin dengan kapasitas oli 1 liter.
Dengan pendekatan ini, konsumsi bahan bakar dapat menjadi salah satu indikator tambahan untuk memperkirakan kebutuhan penggantian oli, khususnya bagi mobil yang sering digunakan dalam kondisi lalu lintas padat.
Apakah Metode Fuel Burn Bisa Menggantikan Kilometer?
Meski dapat menjadi alternatif, metode fuel burn tidak serta-merta menggantikan patokan jarak tempuh yang selama ini digunakan dalam perawatan mobil.
Mulianto menjelaskan, pendekatan berdasarkan konsumsi bahan bakar juga dikenal dalam sektor industri untuk memperkirakan kebutuhan perawatan mesin, termasuk menentukan waktu overhaul.
“Namun, angka sekitar 110 liter bahan bakar untuk setiap 1 liter kapasitas oli merupakan gambaran perhitungan teoritis, bukan standar universal yang berlaku untuk semua jenis mobil,” ungkap Mulianto.
Karakteristik mesin, kapasitas oli, jenis pelumas, serta kondisi penggunaan kendaraan dapat memengaruhi kebutuhan perawatan.
Karena itu, pemilik mobil tetap disarankan mengikuti jadwal penggantian oli yang tercantum dalam buku manual kendaraan maupun rekomendasi bengkel resmi.
Metode fuel burn bisa dimanfaatkan sebagai tambahan informasi agar pemilik mobil lebih memahami beban kerja mesin. Sebab, kondisi kendaraan tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh mobil berjalan, tetapi juga berapa lama dan seberapa berat mesin bekerja. (GIN)
