BUS-TRUCK - Meningkatkan kompetensi teknologi otomotif dari pabrikan Tiongkok nyata mendorong regulator di sana untuk lebih jauh lagi mengawasi perkembangan para produsen kendaraan dan juga komponen.
Di awal tahun 2026, seperti dikutip dari Car News China, digulirkan peraturan baru untuk pemakaian sistem bantuan pengereman yang canggih untuk kendaraan komersial ringan kategori N1 (kendaraan komersial berbobot di bawah 3,5 ton). Efektif berlaku tahun 2028.
Sebelumnya aturan ini sudah ditetapkan untuk kendaraan segmen M1 seperti sedan, MPV, dan juga SUV.
Semua peranti yang berkaitan dengan sistem pengereman yang baru itu harus lolos pengujian terhadap tiga obyek; pejalan kaki, pengendara motor dan sejenisnya, serta semua obyek yang menghalangi laju kendaraan saat di kecepatan 20-60 km/jam.
Urgensi atas regulasi keamanan berkendara itu karena statistic kecelakaan yang berkaitan fungsi dan respon pengemudi atas sistem pengereman di Tiongkok terbilang tinggi. Mayoritas kecelakaan itu terjadi saat mobil melaju di kecepatan 6-80 km/jam.
Dari data itu juga ditemukan 30 persen kendaraan yang terlibat adalah kendaraan komersial ringan seperti pikap atau van.
Baca juga: Melihat Kehebatan Foton Tunland V, Pick Up Hybrid Yang Sedang Menguasai Amerika Latin
Baca juga: Suzuki ‘Carry EV’ Diperkenalkan, Simak Bocorannya
Sebelumnya sistem pengereman otomatis di kendaraan komersial itu jadi peranti optional. Dengan menjadi peranti wajib, peranti yang nama teknisnya Automatic Emergency Braking System (AEB) itu juga berujung pemasangan sejumlah sensor tambahan di mobil.
Setidaknya ada sensor atau kamera yang akan memberi sinyal jika ditengarai ada potensi tabrakan sehingga mobil bisa melakukan pengereman lebih dini.
Pola ini bisa juga dengan sistem deselerasi otomatis ketika sistem menerima sinyal benda lain di sekitar mobil yang dipindai sebagai obyek berbahaya.
Sistem pengereman ini juga sudah jadi peranti standar dalam standar ANCAP.
Tahun 2015 sebuah riset oleh ANCAP (Australasian New Car Assesment Program) menunjukan hasil soal Autonomous Emergency Braking yang sangat efektif menekan potensi tabrak belakang.
Potensi yang bisa dicapai dari pemakaian sistem ini sampai 38 persen, diberlakukan untuk harus berfungsi di rentang kecepatan 30-50 km/jam.
Hasil serupa juga muncul pada kendaraan dengan fitur serupa yang untuk penjualan wilayah Eropa. (EW)
Selain sistem rem canggih, uji tabrak belakang semakin penting karena termasuk penyumbang fatalitas dari sebuah kecelakaan. (Foto : Wikipedia)






