OTODRIVER - Rumor mengenai hadirnya versi ukuran lebih ringkas dari SUV tangguh Land Rover Defender kian mendekati kenyataan. Mobil yang sebelumnya kerap diisukan mengusung nama Defender Sport tersebut kini diprediksi bakal resmi meluncur dengan nama Defender 100.
Bakal diposisikan di bawah Defender 90 alias varian tiga pintu, Defender 100 akan menggunakan platform EMA (Electrified Modular Architecture) milik Jaguar Land Rover (JLR). Platform ini dirancang khusus untuk mendukung opsi penggerak ramah lingkungan, baik plug-in hybrid (PHEV) maupun listrik murni berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV).
Pilihan Powertrain dan Dimensi Kompak
Strategi JLR untuk menyematkan teknologi hybrid pada platform EMA menjadi langkah krusial. Keputusan ini diambil guna mengantisipasi dinamika pasar global, terutama di wilayah seperti Amerika Serikat yang menjadi pasar terbesar Defender namun pertumbuhan adopsi EV-nya mulai melambat, serta Inggris di mana varian bermesin peminum diesel masih sangat diminati.
Dari segi dimensi, Defender 100 diperkirakan memiliki panjang bodi sedikit di atas 4,5 meter. Walaupun masuk dalam kategori SUV kompak, bahasa desain khas Defender tetap dipertahankan. Seperti proporsi bodi yang boxy, sudut kaca depan yang tegak, serta area buritan jangkung. Tak ketinggalan, sistem penggerak empat roda (4-wheel drive/4WD) dipastikan tetap menjadi standar utama untuk menjaga kapabilitas offroad-nya.
Arsitektur EV Untuk Medan Off-Road
Untuk varian listrik murni, Defender 100 diprediksi mengadopsi konfigurasi dual-motor (satu motor listrik di setiap as roda) guna menghadirkan sistem penggerak 4WD elektris. Skema ini memungkinkan pembagian torsi secara presisi antara roda depan dan belakang saat melibas permukaan minim traksi.
Baca Juga: Land Rover Perkenalkan Defender Wolf Series II, Kendaraan Militer Generasi Baru untuk Tradisi Lama
Namun, penggunaan platform EMA yang menempatkan paket baterai di bawah lantai kabin (underfloor battery) menghadirkan tantangan teknis tersendiri saat dipakai di medan berat. Posisi baterai tersebut berpotensi membatasi artikulasi as roda (axle articulation) dan jarak main suspensi (suspension travel) jika dibandingkan dengan Defender konvensional. Oleh karena itu, kalibrasi sasis dan pengaturan elektronik traksi bakal memegang peranan sangat penting.
Selain itu, bentuk bodi serba boxy dan tegas khas Defender juga menjadi tantangan dari sektor aerodinamika demi menjaga efisiensi daya baterai.
Hadirnya platform kompak ini turut membuka peluang bagi JLR untuk merilis lini bodi baru di masa depan, seperti varian pikap untuk pasar Amerika Utara atau model perkotaan yang lebih praktis untuk jalanan Eropa yang sempit.
Sementara di negara berkembang seperti India yang baru saja memulai perakitan lokal (CKD), kehadiran Defender 100 yang lebih terjangkau diprediksi berpotensi menjadi volume maker baru. Terlebih dengan banderol harga yang turun signifikan, cocok untuk menggaet konsumen SUV premium yang lebih luas. (Why)
