OTODRIVER - Tren fluktuasi harga BBM nampaknya akan berlangsung lebih panjang dari yang diperkirakan mengingat eskalasi ketegangan politik dan militer di kawasan Timur Tengah masih belum ada tanda-tanda menurun.
Pergerakan harga minyak mentah dunia juga terus bergerak naik, namun harga bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina, Shell, Vivo, dan BP terpantau masih stabil per 27 Oktober 2026.
Dari laman Pertamina Patra Niaga, untuk wilayah DKI Jakarta, harga per liter Pertamax adalah Rp15.950 namun untuk pembelian di Pertamax Shop harganya Rp15.850, untuk Pertamax Turbo Rp19.600 per liternya, Pertamax Green Rp19.150 per liter, Dexlite juga masih Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex belum berubah dari angka Rp25.200 per liter.
Berdasarkan unggahan di akun Instagram resminya, harga BP92 adalah Rp16.130 untuk setiap liternya, kemudian BP Ultimate di harga Rp19.330, dan Rp25.420 untuk setiap liter BP Ultimate Diesel.
Di SPBU Vivo, berdasarkan tabel harga per 1 Oktober juga belum ada perubahan. Revvo 92 dihargai Rp16.130 untuk tiap liternya, kemudian Revvo 95 Rp19.330, dan Diesel Primus Rp25.420 per liter.
Untuk SPBU Shell masih menyediakan bahan bakar jenis V-Power Diesel saja yang harganya Rp25.420 untuk pembelian tiap liternya.
Harga BBM nonsubsidi Pertamina 'ditahan' pemerintah
Di lain kesempatan, berkaitan dengan harga BBM nonsubsidi di bulan Oktober, Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, dihitung dari rata-rata pasar 25 Agustus–25 September 2026.
Kalaupun ada potensi perubahan harga, menurutnya yang dikutip dari Antara (26/9/2026), fluktuasi harga BBM nonsubsidi bulan Oktober di kisaran 5–11 persen pada Oktober. Rentang kenaikan harga itu berkaitan tren harga bensin olahan di Singapura (MOPS) yang naik sekitar 14 persen.
Ia lebih lanjut memaparkan, rata-rata MOPS bensin naik dari 111,4 dolar AS per barel pada jendela harga September, ke sekitar 126,7 dolar AS per barel untuk jendela harga Oktober. Di sisi lain, nilai tukar rupiah menguat dari Rp17.892 per dolar AS ke Rp17.630 per dolar AS.
Dari gambaran itu Yayan menyakini adanya peluang harga BBM nonsubsidi naik 5–11 persen, namun kalaupun tidak ada perubahan atas produk BBM nonsubsidi yang disediakan oleh Pertamina hal itu dikarenakan ditahan oleh pemerintah kendati harga aslinya sudah menyentuh Rp18.350 per liter. (EW)
