FIRST DRIVE: Mitsubishi Outlander PHEV

FIRST DRIVE: Mitsubishi Outlander PHEV

Kesempatan yang begitu langka datang kepada kami, mencoba mobil Plug In Hybrid terbaru dari Mitsubishi, Outlander PHEV. Pasalnya saat ini SUV tersebut belum dijual oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) di Indonesia. Bahkan menurut kabar yang beredar, baru memungkinkan untuk mulai dipasarkan pada 2025 sesuai dengan kemungkinan saat berlakunya kebijakan soal pajak mobil listrik di Indonesia.

Tak masuk akal rasanya jika harus menunggu hingga 7 tahun ke depan. Pun jika memang benar, rasanya mobil tersebut sudah terlalu 'tua' untuk dijual pada 2025. Akhirnya kami memutuskan untuk segera mencobanya, berhubung mobil hibah dari PT MMKSI kepada pemerintah Indonesia untuk kepentingan riset ini dipijamkan dalam rangka kepentingan pameran mulai 19 - 29 April 2018 di Kemayoran, Jakarta.

 

Sejatinya varian Outlander satu ini tidak dihadirkan oleh Mitsubishi untuk pasar tanah air, membuatnya terlihat 'asing' dan cukup mengundang perhatian saat melintas. Bagi sebuah mobil berteknologi hybrid, SUV ini terlihat begitu bersahaja sekaligus mewah menggunakan bahasa desain Dynamic Shield ala Mitsubishi dan tak mencoba tampil lebih futuristis hingga berlebihan. Semua lekuk bodi dan proporsinya terasa pas disokong oleh pelek berdiameter 18 inci dihiasi kelir dual tone black dan polished.

Tampilan yang sederhana pada bagian luar berlanjut hingga ke interior. Ekspektasi kami soal interior bergaya futuristis dan penuh lampu berwarna biru khas mobil elektris tidak kami temukan pada Outlander PHEV. Bukan berarti buruk, tata ruang layaknya mobil 'standar' ini justru menjadi nilai tambah bagi sebagian orang karena tak terasa intimidatif.

 

Di balik kap mesin, tersimpan mesin berkapasitas 1.998 cc dengan tenaga 121 ps dan torsi 190 Nm. Karena Outlander sebuah mobil Hybrid, terdapat dua motor listrik yang terletak di poros roda depan dan belakang. Keduanya mampu menghasilkan 80 dk serta torsi 135 Nm pada motor listrik roda depan dan 195 Nm di belakang. Tenaga dan torsi tersebut disalurkan melalui transmisi satu percepatan dan melihat figur yang luar biasa jika digabungkan, tak sabar rasanya untuk segera memacu Outlander Plug-in Hybrid ini.

Hal unik yang kami temukan setiap mencoba mobil berdaya listrik adalah ketika memencet tombol start/stop engine dan tak ada getaran maupun suara yang muncul. Rasanya memang sedikit 'aneh' dan perlu adaptasi dengan suara kabin yang sangat hening. Lupakan sejenak, karena kami mendapatkan posisi mengemudi ideal dengan mudah didukung oleh pengaturan jok elektris dan kemudi yang memiliki penyetelan tilt serta telescopic walaupun posisi joknya dirasa kurang rendah.

Mode berkendara berada di posisi normal saat kami mencobanya pertama kali, pada mode ini memungkinkan mesin untuk menyala otomatis sesuai dengan kondisi baterai dan cara mengemudi penggunanya. Sebaliknya pada mode EV, Ia diklaim dapat berjalan sejauh 53 km hanya memanfaatkan motor listrik sebagai penggerak dan mesin konvensional hanya menyala untuk mengisi ulang baterai.

Sayangnya kami sedikit kecewa dengan kemampuan akselerasi yang ternyata berbeda dari harapan. Mesin internal combustion-nya dirasa kurang memberikan dorongan yang signifikan saat berakselerasi keras. Namun, perlu diingat kembali bahwa mobil ini tidak diciptakan untuk memberikan kemampuan akselerasi luar biasa. Manfaatnya lebih dapat dinikmati oleh Anda yang memiliki rute perjalanan singkat karena dipastikan akan sangat jarang berkunjung ke SPBU.

Satu lagi yang menarik adalah fungsi paddle shift di balik kemudi. Ia disiapkan untuk membantu fungsi isi ulang baterai dengan regenerative braking bertingkat yang dikendalikan seperti memindah gigi pada mobil sport.

Sebagai SUV Hybrid yang diklaim menjadi pertama berbekal kemampuan off road, ia juga dilengkapi tombol twin motor 4WD lock yang mensimulasikan fungsi locker differensial. Fitur ini menunjang kemampuan lintas batasnya dengan distribusi torsi yang merata pada keempat roda. Mitsubishi menempatkan baterai seberat nyaris 200 kg di bawah dek kabin depan hingga ke tengah sehingga membuat centre of gravity-nya tetap rendah. Cara ini berhasil membuat Outlander PHEV memiliki pengendalian cukup tajam dengan karakter bantingan suspensi yang tergolong dewasa, tidak terlalu keras tetapi juga tidak sampai terlalu empuk dan membuatnya terasa limbung.

Kesimpulan

SUV Hybrid lansiran Mitsubishi ini akan sangat terasa manfaatnya ketika digunakan dalam jarak yang relatif pendek, sehingga Anda akan terhibur oleh konsumsi bahan bakar yang sangat irit. Mobil hybrid dapat menjadi solusi yang efisien bagi pengembara kota sehari-hari, namun entah berapa lama lagi pasar Indonesia harus menunggu kehadiran Outlander PHEV. Apalagi saat ini mobil-mobil hybrid masih harus terbentur regulasi sehingga belum terlalu diminati oleh konsumen di Indonesia. Tidak hanya karena biaya impor yang mahal tetapi juga pajak kendaraan bermotor yang tinggi sebab mobil hybrid dianggap memiliki dua buah mesin. Selain itu, belum tersedianya infrastruktur yang mendukung seperti stasiun isi ulang bagi mobil elektris.

Kelebihan

  1. Efisiensi BBM luar biasa
  2. Berbekal kemampuan off road
  3. Desain konservatif dengan kesan mewah

Kekurangan

  1. Mesin kurang bertenaga
  2. Head Unit kurang intuitif
  3. Pelipatan bangku baris kedua tidak praktis

Spesifikasi

Mitsubishi Outlander PHEV

Harga: -

Kapasitas Mesin: 1.998 cc 4 silinder DOHC MIVEC

Tenaga Maksimum: 121 ps

Torsi Maksimum: 190 Nm

Tenaga Maksimum Motor Listrik: 80 dk

Torsi Maksimum Motor Listrik Depan: 137 Nm

Torsi Maksimum Motor Listrik Belakang: 195 Nm

Penggerak: Four Wheel Drive

 
 
 
 
 
Daftarkan diri Anda untuk
mendapatkan informasi terkini mengenai mobil.
 
 
Rekomendasi

CarReview.id

    Otorider.com